Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Muhasabah Bulan Zulhijjah



Demensi Sosial dalam Ibadah

Muhasabah 2
Zulhijjah 1436


Pesan ibadah qurban adalah taqarrub illallah dengan menyayangi manusia;
mendekati Allah dengan mendekati sesama. Makanya ibadah qurban punya
dimensi sosial yang tinggi.


Di samping qurban,
sepertinya pada hampir seluruh ibadah mahdhah dalam Islam juga sarat nilai
dimensi sosial yang kental. Kita lihat daja pada arkan al-Islam; rukun
Islam saja.


Pertama,
syahadatain. Kesaksian akan kemahatunggalan Allah kita iringkan dengan
kesaksian atas kerasulan utusanNya yang berasal dari kalangan manusia, Nabi
Muhammad saw.


Kedua, shalat.
Memulai takbiratulihram dengan mematuhi segala syarat dan rukunnya sampai
mengakhirinya dengan mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri. Melangit tidak
lupa membumi. Melangit dalam rangka mi'raj untuk bisa menyampaikan
kedamaian (salam) di bumi.


Ketiga shaum.
Menahan diri dari makan minum dan segala hal yang membatalkannya di siang
hari agar peka dengan penderitaan kelaparan yang dialami oleh sesamanya..


Keempat, zakat.
Mengeluarkan sebagian harta untuk kemaslahatan dan krsejahteraan sesama.


Kelima, haji.
Menyengaja ke masjid al-haram pada beberapa hari bulan Zilhijjah, sehingga
meniscayakan hablum minal mukminin wa mukminat sejagad





























Solidaritas
Masjidil Haram



Muhasabah 3 Zulhijjah 1436


Ketika sekitar tiga jutaan umat
Islam tumpah ruah di seputaran Masjidil Haram pada hari-hari di bulan
Zulhijjah tahun ini, di beberapa negeri umat Islam masih dikoyak-koyak
dengan beragam masalah.


Pertama, umat Islam di
Palestina terutama di Masjiidil Aqsha sedang berjihad berbekal batu kerikil
dan berlindung diri dari intrik-intrik politik dan ragam serangan militer
Israel laknatillah yang sudah mulai merangsek memasuki Mashidil Aqsha.
Lihatlah sebuah bentrokan yang amat timpang antara Pasukan Militer Israel
yang lengkap dengan persenjataan modernnya dengan jamaah umat Islam yang
sangat bersahaja yang hanya ingin menpertahankan kesucian Masjidil Aqsha.


Kedua, krisis di
Suriah yang juga belum kunjung selesai. Bagaimana tidak miris sekarang ini
kita melihat kondisi di Suriah yang di dalamnya ada Damaskus. Ya Suriah
yang dulunya yaitu mulai tahun 661 hingga 750 Masehi menjadi pusat
peradaban Islam dan umatnya di bawah pemerintahan Daulah Bani Umayah, kini
menjadi pusara konflik yang tak kunjung berakhir.


Ketiga, ekses krisis
Mesir yang hingga kini juga masih berlanjut. Pemerintah terus mengejar dan
mengadili para pihak dari kalangan yang berbeda warna politik dan
ideologinya, terutama dari kalangan Ikhwanul muslimun. Ya Ikhwanul Muslimun
yang dalam historitas sejarah sebelumnya telah mengukir banyak prestasi,
kini harus bersembunyi atau syahid di tangan bangsanya sendiri.


Belum lagi kita melihat di
negeri-negeri muslim lainnya yabg juga tidak sepi dari masalah. Idealnya
solidaritas Masjidil Haram yang terbina saat pelaksanaan ibadah haji
hari-hari di bulan Zulhijjah seperti saat ini dan pada setiap tahunnya
dapat mengilhami umat Islam sedunia akan betapa pentingnya kebersamaan,
persaudaraan, persatuan, ukhuwah islamiyah dan saling mengukuhkan antar
satu negeri dengan lainnya.

Pesan
Masjidil Haram


Muhasabah
4 Zulhijjah 1436


Sejatinya
telah lama bermilyar orang Islam sejagad raya berkiblat sama, bahkan
jutaan di antaranya secara silih berganti selalu dipertemukan di tanah
suci, di Masjidil Haram yang mulia, baik tahunan dalam ritual haji maupun
kapan saja dalan ritual umrah atau lainnya. Apakah belum cukup dengan
Pesan Masjidil Haram yang tercipta ini menyatukan cita dan cinta kepada
Rabbnya akan setiap langkah hamba-hambaNya.


Ya
Allah! HambaMu benar-benar tidak bisa memahami, mengapa semua demi ridhaMu
yang menjadi tujuannya belum juga menjadi perekat antarbangsa, antarumat
Islam, antarorang-orang beriman dalam menjalani hidup berbangsa dan
bernegara ini.


Ya
Rabb! seringkali hambaMu ini tidak mengerti, mengapa yang Ka'bah kiblat
shalatnya belum juga menyatukan jiwa-jiwa yang menghadap ke arahnya untuk
seiya sekata dalam membela dan menegakkan agama.


Ya
Maalik! Harusnya dengan selalu tambah berbilangnya jumlah para peziarah
(hujjaj) ke tanah suci berbanding lurus bahkan harusnya menunjukkan grafik
menaik baik kuantitas maupun kualitas orang-orang suci di muka bumi ini.


Ya
Mujibuddu.'a! dengan perkenan dan ridhaMu hambaMu mengadu akan kelemahan
dan keterbatasan yang ada, sekaligus memohon kesabaran, kekuatan,
kesatuan, kukuhnya ukhuwah islamiyah dan keberkahan hidup.


Semoga
setiap ritual yang ditunaikan memancarkan cahaya yang mencerahkan, membawa
pesan yang diinplementasikan dalam semua aspek kehidupan

Piagam
Masjidil Haram







Muhasabah
5 Zulhijjah 1436


Terdapat
beberapa kesepakatan - ''ijmak sukuti'' - yang selalu dicapai oleh jutaan
kaum muslimin saat menunaikan ibadah haji di
Masjidil Haram sebagai ekspresi cita dan cinta tulus terhadap Rabbnya.


Pertama,
kesatuan niat. Niat adalah awal dari segala perbuatan dan perilaku manusia.
Meskipun niat bersifat personal dan sangat mempribadi, namun kerinduan
untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci telah menyatukan niat-niat
peziarahnya.


Kedua,
kesatuan gerak. Di samping kekuatan iman, pelaksanaan ibadah haji
memerlukan kekuatan fisik yang prima karena sebagian besar kaifiyatnya
adalah gerak, gerak dan gerak. Inilah ibadah kolosal yang diikuti oleh
berjuta-juta orang Islam yang segerak serentak sekata seraya memuja
Rabbnya.


Coba
lihatlah yang rukun saja, setelah berniat haji dengan ihram lengkap dengan
seragam putihnya, para jamaah harus menuju ke Padang Arafah untuk wukuf,
kemudian melakukan thawaf dengan mengelilingi Ka'bah, kemudian disusul
dengan melakukan sa'i napak tilas perjuangan Siti Hajar saat mempertahankan
hidup diri dan keluarganya antara Shafa dan Marwah, kemudian tahalul dengan
menyukur rambut serta tertib menunaikannya. Semua ritual ini bukankah sarat
dengan gerak, perubahan, dan perjuangan.


Ketiga,
kesatuan tujuan. Tujuan adalah idealitas yang dicita-citakan, sehingga
segala daya dan usaha dilakukan untuk menggapainya. Meskipun beragam tujuan
bisa dicanangkan dan dicapai di tanah suci, namun tetaplah disatukan akan
cita cinta untuk menggapai ridha Allah ta'ala.


Inilah
Piagam Masjidil Haram yang harus disadari, dihayati dan diimplementasikan
dalam kehidupan sehari-hari dalam setiap niat, gerak dan tujuan orang-orang
Islam di manapun berada.

 


 


Universalitas Ihram


 Muhasabah 6 Zulhijjah 1436






Hari-hari
di awal bulan Zulhijjah ini banyak saudara kita yang masih menanti atau
kemudian sudah memulai mengerjakan rukun haji, yaitu ihram. Inilah niat
haji sebagai ikatan hati dimana telah menjadi penanda yang mengawali
serangkaian pelaksanaan ibadah haji di tanah suci.


Terdapat
banyak pelajaran pada rukun haji pertama ini. Di antaranya. Pertama,
mengenakan pakaian ihram; dua helai berwarna putih tanpa jahitan dapat
meneguhkan kesetaraan dan kesederhanaan insan. Inilah simbol persamaan
derajat kemanusiaan. Karena pakaian selama ini sering menjadi pembeda status
sosial manusia, dan dengannya kemudian menyebabkan timbulnya sikap
diskriminatif antar satu dengan lainnya. Oleh karena itu pakaian ihram
mengajarkan persamaan derajat kemanusiaan sekaligus kesederhanaan hidup
yang mengingatkan bahwa suatu ketika pakaian seperti inilah yang akan
membungkus jasadnya saat telah meninggalkan dunia ini.


Kedua,
saat ihram harus mengindahkan aturan Tuhan, seperti menjaga kesucian diri
dengan tidak bercumbu mencampuri istri, menjauhkan diri dari perilaku
merusak seperti mencabuttebangi pepohonan, berburu binatang dan menumpahkan
darah. Inilah universalitas Islam, memelihara, menghidupi dan merahmati
segala alam.


Ketiga,
bersimpuh di Baitu Allah apa adanya; tidak ada embel-embel pangkat,
kekayaan duniawiyah, bahkan tidak diperkenankan menyukur rambut sekalipun
agar kelihatan jelas aslinya.


Ya
ihram mengajarkan universalitas, pesan moralnya berlaku kapan saja, di mana
saja dan untuk siapa saja.










 Internalisasi Arafah



Muhasabah
7 Zulhijjah 1436







Setelah
ihram pada 8 Zulhijjah dengan mabit beribadah di Mina, maka saudara-sadara
kita di tanah suci akan menuju dan melakukan wukuf di padang Arafah pada 9
Zulhijjah, malamnya sembari mempersiapkan kerikil untuk jumrah esok
harinya. Untuk rukun wukuf Arafah ini mari kita peluk ibrahnya.


Pertama,
media makrifat al-insan. Berdiam diri berkontemplasi agar menemukan jati
diri sembari berdoa dan berzikir semampunya. Padang 'Arafah mengkodisikan
tersedianya kesempatan seluas padang yang membentang untuk mengenali diri
('arafah) sehingga menjadi pribadi yang sadar diri arif nan bijaksana.
Apalagi suatu saat nanti di alam akhirat manusia juga akan dikumpulkan di
padang makhsyar dimana akan diumumkan oleh pengadilan Ilahi akan kesejatian
diri masing-masing orang. Oleh karenanya sedari sini dan sedini mungkin,
mengenali diri menjadi kunci mencintai Ilahi.


Kedua,
media ta'aruf. Wukuf di Arafah menyediakan kesempatan bermuktamar
internasinal di bawah panji-panji ketaatan pada Tuhannya. Betapa tidak!
Berjuta-juta orang beriman berinteraksi, bersosialisasi, saling mengenali
(arafah) untuk seiya sekata dalam memuja keagungan Rabbnya.


Ketiga,
penyadaran diri. Siapa diri ini di tengah lautan manusia di Padang Arafah
yang luas seolah tak bertepi. Bukankah persis seperti sebutir pasir, bahkan
pasir yang berlumuran debu di tengah hamparan padang pasir yang amat luas.
Inilah miniatur akhir dari kehidupan manusia.






 

















Tawaf
Kehidupan


Muhasabah
8 Zulhijjah 1436


Rukun
haji berikutnya adalah tawaf dengan mengelilingi Ka'bah tujuh kali putaran.
Tawaf dilakukan setelah para jamaah menemukan kearifan dirinya di Padang
Arafah. Selain ini, ibrah dari rukun tawaf ini di antaranya.


Pertama,
berporoskan Ka'bah. Di samping sebagai penyatuan kiblat shalat, Ka'bah
merupakan simbol penyatuan orientasi hidup manusia di bumi, persis seperti
seluruh planet di langit yang berorientasi mengitari matahari. Ke manapun
dan sejauh apapun manusia melangkah menjalani hidup di muka bumi ini,
idealnya harus senantiasa berorientasi pada satu tujuan yaitu menggapai
ridha Ilahi.


Kedua,
berputar mengelilingi Ka'bah perlu proses dan usaha, bahkan harus berulang
kali. Menuju untuk mendekatkan diri pada Allah (taqarrub ilallah) atau bahkan
menyatukan diri pada kebenaran Ilahi merupakan proses sekaligus capaian
kesadaran insani terhadap eksistensinya di muka bumi ini.


Inilah
kesejatian esensi hidup yang senantiasa bergerak berputar berorientasi pada
satu arah dan satu tujuan, menggapai ridha Ilahi.






















Utilitas Sa'i


Muhasabah
9 Zulhijjah 1436


Haji
diawali ihram, lalu wukuf, kemudian tawaf, dan rukun selanjutnya adalah
sai, yaitu berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
Sai merupakan simbol perjuangan, perjuangan hidup (baca tujuh kali).


Pertama,
keniscayaan ikhtiar. Sebagaimana dalam ritual haji, sai juga merupakan
keniscayaan dalam kehidupan. Karena sai bermakna berusaha atau berikhtiar.
Dengan demikian orang baru dikatakan hidup ketika ia berusaha atau
berikhtiar. Orang yang hidup di bumi ini tetapi tidak berusaha maka
keberadaannya hanya akan menjadi beban keluarga, beban sosial dan beban
agama. Supaya tidak beban, mari berusaha; mari kita peluk etos kerja.


Kedua,
tawakkal. Inilah indahnya tuntunan Islam, ketika usaha maksimal telah
dilakukan, maka kita diingatkan betapa pentingnya tawakkal. Melalui
perjuangan maksimal yang diperankan oleh Siti Hajar dan kepasrahannya saat
mencari air kehidupan sampai berkali-kali antara Shafa - Marwah dan
kesucian jabang bayi Ismail, Allah mendidik umatNya betapa pentingnya
tawakkal setelah usaha maksimal dilakukan; betapa signifikan pertolongan
Tuhan atas etos kerja hambaNya.


Ketiga,
mencari dan menemukan air. Mengapa air yang dicari dan ditemukan oleh Siti
Hajar dan Ismail, bukan kurma, gandum atau lainnya? Tidak lain dan tidak
bukan, karena air menjadi keniscayaan hidup dan kehidupan. Bahkan menurut
para pakar, kata syariat bermakna tanda atau isyarat yang menunjukkan jalan
menuju air. Oleh karenanya mematuhi syariat (Islam) menjadi keniscayaan
bagi kesejukan hidup dan kehidupan. Mengabaikan syariat, hidupnya gersang.

 


Wisuda Haji


Muhasabah 10 Zulhijjah 1436







Bila ihram merupakan rukun penanda yang
mengawali rangkaian ibadah haji, maka tahallul merupakan rukun penanda
bahwa ibadah haji telah selesai ditunaikan. Dalam banyak literatur,
tahallul bermakna telah dihalalkan atau telah diperbolehkannya sesuatu bagi
jamaah haji atau umrah yang saat sebelumnya, yaitu saat ihram dilarang
melakukannya. Sebagaimana telah diketahui bahwa ketika para jamaah telah
memulai haji dengan ihram maka sejumlah larangan harus diindahkan, seperti
berburu, bercumbu, menyukur rambut, memotong kuku dan lainnya. Setelah mengerjakan
rangkaian wukuf, tawaf, dan sai, maka para jamaah kemudian melakukan
tahallul dengan menyukur rambut sebagai penanda bahwa ibadah haji telah
usai ditunaikan. Dapat dikatakan bahwa tahallul adalah tanda telah
sempurnanya rukun ibadah haji seseorang atau bahkan sebagai penyempurnaan
keislamannya. Karena pada umumnya, para jamaah sebelum menunaikan ibadah
haji, di kampung halamannya, mereka telah menunaikan empat rukun Islam
sebelumnya; syahadat, shalat, puasa dan zakat. Maka pelaksanasn ibadah haji
bagi yang berkemampuan merupakan upaya penyempurnaan keislaman seseorang.
Dan sempurnanya rukun haji ketika jamaah melakukan tahallul. Maka tahallul
menjadi kunci.


Penanda berakhirnya suatu amalan
ibadah juga kita dapati misalnya pada puasa. Selesainya ibadah puasa
ditandai dengan ifthar (berbuka) di saat matahari terbenam. Selesainya
bulan puasa Ramadhan ditandai dengan terbitnya bulan sabit 1 Syawal, di
mana keesokan harinya kita berhari raya ifthar; hari raya berbuka, hari
raya idul fitri.


Dalam dunia pendidikan kita juga
mengenal penanda akhir dari sebuah capaian jenjang studi dengan wisuda yang
disertai penyerahan ijazah sembari memindahkan tali kuncir pada topi dari
kiri ke kanan dan ucapan selamat. Sejak inilah, secara formal para lulusan
kemudian sah menyandang gelar sesuai capaian jenjang studinya, apa Drs,
S.Ag, S.Pd.I, SHI, S.Sos.I, SKH, MA, dr, Dr atau lainnya.


Nah kan??? sepertinya mirip dengan
penanda penyelesaian ibadah haji. Setelah serangkaian rukun haji berhasil
ditunaikan, maka tahallul merupakan penanda berakhirnya ibadah haji. Di
sinilah para jamaah seolah diwisuda, ditandai dengan menyukur rambutnya.
Setelah sesi wisuda tahallul ini, kemudian yang bersangkutan dan kita di
kampung halaman lazimnya menambah menabalkan gelar haji (H) atau hajjah
(Hj) di depan namanya. Semoga penanda lahiriyah, baik tercukur rambutnya
maupun penambahan H atau Hj pada namanya, menjadi penanda kedekatan pada
RabbNya. Mohon maaf lahir batin.



Top
of Form




Bottom of Form























Mengingat Kematian


Muhasabah
11 Zulhijjah 1436


Judul
ini sejatinya tidak bermaksud mengingatkan atau ada hubungannya dengan
tragedi Mina saat melempar jumrah Kamis kemarin yang menyebabkan tujuh
ratusan lebih jamaah terinjak-injak wafat dan lainnya luka-luka atau kejadian
badai angin pasir yang menjatuhkan crane di Masjidil Haram Jumat sepekan
lalu yang juga menyababkan ratusan jamaah wafat dan lainnya masih dirawat.
Tetapi atas perenungan tersendiri jauh sebelumnya.


Bila
perayaan Idul Fitri cenderung lebih mengingatkan kelahiran, maka perayaan
Idul Adha cenderung mengingatkan kematian. Untuk ini ada beberapa analisa
yang dapat dikemukakan. Pertama, dari segi namanya hari raya ini dikenal
hari raya idul qurban. Qurb bermakna dekat dengan Allah, dan manusia
memiliki kerinduan untuk selalu dan menuju pada Allah. Dekat atau bahkan
menyatu dengan Allah yang sesungguhnya ketika yang bersangkutan telah
menghadap ke haribaannNya, yaitu di surga. Ini artinya setelah mati,
meskipun usaha untuk dekat dsn menyatu itu sudah dilakukan saat di dunia.
Di samping itu, hari raya Idul Adha juga untuk mengenang ketaatan Nabi
Ibrahim saat menerima titah dari Allah untuk mengurbankan putranya Nabi
Ismail sekaligus kepasrahan keduanya dalam mematuhi dan mendekatkan diri
pada Allah ta'ala. Karena ujian ini telah dapat sukses diiperankan oleh
Nabi Ibrahim dan Ismail, maka Allah menggantikan qurbannya dengan seekor
kibas.


Kedua,
dalam konteks turunnya Al-Qur'an, hari raya Idul Adha diperingati setelah
turun wahyu terakhir saat Haji Wada'nya Baginda Nabi Muhamnad saw. Makanya
Abubakar ketika tahu bahwa Al-Qur'an sudah sempurna diterima, beliau
menangis karena firasatnya tidak lama lagi Rasulullah akan wafat. Dan
ternyata firasat Abubajar benar, usai Haji Wada', pada bulan Rabi' al-Awwal
tahun 13 H Rasululllah wafat. Berbeda dengan Idul Fitri yang dirayakan
setelah turunnya wahyu pertama sebagai kelahiran nubuwah dan kelahiran
Islam.


Ketiga,
Idul Adha erat hubibgannya dengan haji. Saat ibadah haji dimulai ditandai
dengan ihram, maka para jamaah mengenakan dua helai kain kemudian wukuf di
padang Arafah dan prosesi lainnya sangat mendekatkan ingatan dan kesadaran
insani bahwa suatu saat ketika wafat jasadnya juga akan dikafani dan
diadili oleh Ilahi di padang makhsyar.  Dengan demikian, baik untuk hidup maupun
untuk mati, Islam memberi tuntunan, sehingga kita dapat memaknainya demi
cita dan cinta pada Allah Maha Pencipta.






Hari Makan Minumn

Muhasabah
12 Zulhijjah 1436






Dalam
rangkaiannya merayakan Idul Adha 10 Zulhijjah, umat Islam sedunia kemudian
masih terus menikmati makan minum pada hari-hari tasyriq, 11, 12 dan 13
Zulhijjah. Oleh karenanya pada masa ini umat Islam dilarang berpuasa.


Tasyriq
- syuruq - musyriqun secara bebas dimaknai sebagai terbitnya matahari,
sehingga umat Islam dapat menjemur daging qurban yang barusaja
disembelihnya. Inilah hari-hari yang idealnya melimpah daging-daging
qurban, atau juga makanan dan minuman yang bisa dinikmati oleh keluarga,
handai taulan dan bisa berbagi antarsesama. Inilah hari makan minum
sedunia.


Sebagaimana
disadari bahwa menunaikan ibadah di samping kondisi phikis yang sehat juga
menghajatkan kondisi fisik yang prima, apalagi rangkaian ibadah haji yang
mayoritas kaifiyatnya diperlukan gerak, gerak dan gerak, mulai dari ihram,
menuju Arafah untuk wukuf, lalu tawaf mengelilingi Ka'bah, sai berkari-lari
kecil Shafa Marwah, ke Mina untuk melempar jumrah dan tahallul. Untuk
menjaga dan memulihkan fisik yang sehat wa afiat para jamaah, maka
pemenuhan kebutuhan gizi dengan daging qurban (dan makanan minuman yang
halalan thayiban lainnya) menjadi penting.


Umat
Islam sedunia lainnya yang tengah merayakan Idul Adha dan hari Tasyriq di
kampung halaman masing-masing juga menyembelih binatang qurban dan
berkesempatan menikmati makan minum serta berbagi antarsesama.


Sembari
menikmati makan minum, tentu harus bersyukur atas segala karunia yang telah
Allah anugrahkan. Bahkan pemenuhan makan dan minum itu sendiri, idealnya
hanya untuk memastikan keberlanjutan dan kekuatan beribadah kepada Allah
semata. Oleh karenanya selama Idul Adha dan Hari Tasyriq. Umat Islam
mestinya memperbanyak zikir, seperti takbir membesarkan asma Allah, tahmid
memuji Allah, tasybih menyucikan Allah, tahlil mengesakan Allah, juga
bertaubat istighfar memohon ampun pada Allah atau berdoa semampunya.

 


Tahniyah


Muhasabah
13 Zulhijjah 1436






Di
samping mendapat keberkahan daging sembelihan qurban dari kampus, saya di
hari Sabtu 12 Zulhijjah kemarin juga 'kebanjiran berkah' ucapan selamat,
doa dan tahniah dari teman-teman akan terulangnya tanggal dan bulan saat
saya dilahirkan, 26 September hampir sengah abad yang silam. Sejatinya yang
berulang adalah tanggal dan bulannya, bukan tahunnya, tetapi dalam setiap
tahunnya hanya terulang sekali, maka sudah lazim disebut ulang tahun, bukan
ulang tanggal, bukan ulang bulan, bukan ulang
tanggal bulan.


Dulu
sewaktu saya kecil, orangtua saya - mungkin juga pada umumnya orangtua
anak-anak kampung di Jawa Tengah - sering kali membuat 'bancakan' semacam tumpeng kecil dengan aneka sayur urapannya
sebagai ungkapan rasa syukur di ulang hari kelahiran anaknya (weton).


Uniknya
hari weton ini durasinya hanya 35
hari perhitungan (Jawa, selapanan). Misalnya seseorang lahirnya pada hari
ini Ahad Wage, berarti inilah hari sebagai wetonnya dan akan berulang lagi
setiap 35 hari ke depannya dan seterusnya. Nah pada setiap Ahad Wage ini
biasanya diadakan syukuran, tapi ya seadanya saja; nasi lengkap dengan urap
sayurnya ditaruh di daun pisang dan dipincuk. Coba bayangkan bila anaknya
banyak, maka bisa jadi setiap pekan ada saja syukuran atau bancakan untuk
anak-anaknya.


Ya
Allah! masa kecilku, sangat sederhana, miskin, bersahaja, alamiyah pedesaan
dan relatif tidak ada sentuhan budaya kota. Tetapi hari, pekan, bulan,
selapanan, tahun seolah-olah lari mengiringi rekam jejak langkah setiap
diri sesuai dengan cita citra yang ditentukan oleh Ilahi. Kini usiaku sudah
hampir kepala lima, rambutku sudah bermunculan 'sang cahaya surga' - kata
isteriku - sehingga kelihatan aslinya, penglihatanku sudah harus dibantu
oleh kaca mata agar jelas, kekuatan fisikku mesti berhemat, dan tak terasa
sudah banyak yang berubah, berubah dan berubah. Di rumah dan keluarga sudah
dipanggil ayah, bahkan simbah (kakek), di khalayak sudah lazim disebut
bapak-bapak (senior karena tuanya).


Seiring
dengan bertambahnya usia sekaligus berkurangnya jatah hidup di dunia,
idealnya semakin mendekat dan rapat memeluk ketaatan dan ketaatan pada
Rabbnya. Terima kasih sahabat semua atas ucapan selamat, doa dan
tahniahnya, semoga keberkahan rezeki, keberkahan ilmu, keberkahan hidup
dapat kita rasakan bersama.

 


Pengalaman Spiritual


Muhasabah
14 Zulhijjah 1436






Kini
saat artikel ini ditulis, sebagian besar jamaah telah menyelesaikan rangkaian
ibadah haji di tanah suci, dan umat Islam di kampung halaman juga telah
menyelesaikan prosesi penyembelihan binatang qurban dengan berlalunya hari
tasyriq sore kemarin. Tentu terdapat banyak pelajaran yang bisa dipetik
dari pelaksanaan keduanya, baik dari haji maupun qurban. Meskipun demikan,
ibrah haji atau ibadah qurban biarlah menjadi pengalaman spiritual
masing-masing karena pasti sarat makna sesuai
dengan maqam dan religiusitas dirinya.


Ibadah
haji, terutama, meskipun dilakukan oleh jutaan jamaah dari berbagai bangsa
dan dalam masa atau bahkan tempat yang sama, ternyata selalu membawa makna
dan pengalaman spiritual yang bisa jadi berbeda-beda. Kita sering mendengar
betapa banyak pengalaman spiritual yang sudah diceritakan dan selebiihnya
tetap saja dialami namun tak sempat atau tak dapat diceritakan oleh jamaah.
Inilah di antara pesona ibadah yang sejatinya sangat personal dan
mempribadi hanya dengan Rabbbya.


Begitu
halnya ibadah qurban. Ibrah personalnya tetap beragam. Karena kita yakin
sepenuhnya bahwa hanya dengan ketaatan dan ketakwaanlah yang dapat
merasakan kedekatan (qurb) dirinya dengan Rabbnya (taqarrub ilallah), bukan
daging dan darah binatang qurbannya.


Ya
binatang qurban di samping ibadah mahdhah yang tak tergantikan, tetapi
sejatinya juga simbolisasi dari properti atau bahkan diri manusia itu
sendiri yang senantiqasa harus dipersembahkan hanya kepada citra cinta
Ilahi untuk kesejahteraan insani.

 


 


Muhasabah 15
Zulhijjah 1436





Taqarrub ilallah

Proses, upaya, dan capaian hasil dari mendekatkan diri pada Allah (taqarrub
ilallah) yang dilakukan oleh orang-orang beriman saat masih masih hidup di
dunia ini tidak mengenal kata final. Sebagai pengikut sufi falsafi
sekalipun, ketika telah merasa berhasil dalam proses taqarub ilallah dan
mencapai derajat ittihad atau wahdatul wujud atau fana sekaligus baqa, atau
fase manunggaling kawulo lan gusti, kebersatuan hamba dengan Rabbnya,
tetaplah sebagai perjalanan dan pengalaman spiritual seorang hamba. Ia
tidak tetap dan tidak kekal, malah dinamis, sehingga capaian
spiritualitasnya disebut hal (keadaan) bukan maqam yang statis.



Ceritanya bisa
jadi akan berbeda, ketika orang beriman tidak lagi hidup di dunia fana.
Oleh karenanya, ketika mendengar salah seorang saudara seiman meninggal
dunia, kita disunnahkan berdoa inna lillahi wa inna ilahi rajiun. Saat
inilah idealnya arwahnya benar-benar kembali dan sampai atau bahkan bersatu
dengan Rabbnya di surga.



Menunaikan ibadah
haji merupakan proses dan upaya memenuhi panggilan Allah untuk pergi menuju
dan menjadi tamu Allah di rumahNya, baitullah sehingga dapat merasakan
kedekatan dirinya dengan Rabbnya. Bahkan sekitar seribuan jamaah tahun ini
(yang wafat dalam musibah Mina saja hari ini tercatat 1107 jiwa, belum lagi
yang wafat karena lainnya) yang kedekatannya dengan Rabbnya di tanah suci
menjadi akhir kehidupannya di dunia ini. Sebuah akhir kehidupan di dunia
yang diimpikan oleh banyak orang. Mereka terpilih sebagai orang-orang yang
kembali kepada Rabbnya yang Maha Suci, di Tanah Suci, di saat yang suci dan
dalan proses menyucikan diri.



Jutaan jamaah
lainnya juga terpilih dan masih diberi kesempatan untuk dapat kembali ke
negerinya sendiri-sendiri lagi sebagai pribadi-pribadi yang memiliki
kedekatan dengan Rabbnya, sehingga keberkahan haji menyelimuti seluruh
negeri.



Demikian juga
qurban dan ibadah lainnya dalam Islam. Semua ibadah adalah proses, usaha
dan media untuk taqarrub ilallah, makanya tidak pernah final sehingga
diperlukan menelihara kedekatannya pada Rabbnya.


 


Muhasabah
16 Zulhijjah 1436






Menghadirkan Allah


Dalam
sebuah Hadis Qudsi Riwayat Bukhari, Allah berfirman bahwa seandainya
hambaKu mendekatiKu sejengkal maka Aku akan mendekatinya satu hasta,
seandainya hambaKu mendekatiKu sehasta maka Aku akan mendekatinya satu
depa. Seandainya hambaKu berjalan menuju kepadaKu maka Aku akan
mendatanginya dengan berlari.


Sejengkal,
sehasta, sedepa, berjalan, berlari di samping menggambarkan kadar kuantitas
sekaligus kadar kualitas dari usaha dan cinta seorang hamba, juga.merupakan
hasil capaian akan kehadiran atau bahkan kebersamaan Allah dalam hidupnya.


Normativitas
Hadis Qudsi tadi mengajarkan betapa apresiatifnya Allah terhadap usaha dan
cinta hamba kepadaNya. Seluruh ibadah dalam Islam, baik ibadah mahdhah (syahadat,
shalat, puasa, zakat, umrah-haji, aqiqah, qurban) maupun ibadah ghairu
mahdhah lainnya sejatinya merupakan wasilah, media, instrumen, proses yang
dilakukan seorang hamba akan cintanya dalam rangka menuju, mendekati dan
menyatu dengan Ilahi Rabby.


Adapun
segala perasaan dan kondisi batiniah hamba seperti ridha, rela, ikhlas,
puas, tentram, qanaah, tawakkal, atau lainnya merupakan capaian pengalaman
spiritual dirinya sekaligus sebagai representasi kehadiran Allah dalam
setiap geraklaku keseharian hamba. Bahkan representasi dan kualitas
kehadiran Allah atas hambaNya jauh melampaui dari usaha hambaNya.


Menghadirkan
Allah dalam kehidupan manusia menjadi kunci kedamaian, jesejahteraan dan
keselamatan di sini dunia ini dan di akhirat nanti. Allahu A'lam

 


Allah
Menyertai




Muhasabah 17
Zulhijjah 1436





Kesadaran hadirnya
Allah dalam kehidupan menjadi barometer kualitas seorang hamba. Ketika
Allah menyertai atau disertakan dalam setiap niat, setiap perkataan, setiap
perbuatan, setiap perilaku seorang hamba, maka sudah dipastikan bahwa
keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, kemaslahatan dan keberkahan tercurah
kepadanya. Sebenarnya jauh-jauh hari Al-Qur'an juga sudah mengingatkan
bahwa Allah selalu menyertai setiap hambaNya (QS. Al-Nisa 108 dan QS. Al-Mujadilah 7)



Bila keniscayaan
adanya keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, kemaslahatan dan keberkahan
terealisasi dengan menghadirkan Allah, dan hal ini sangat terbuka bagi
setiap hamba, maka mengapa diri ini kemudian seringkali lupa dan tak
berdaya. Sehingga Allah kita hadirkan dakam kehidupxan pada hanya saat-saat
sangat terbatas saja. Rupanya justru di sinilah letaknya, sehingga setiap
diri mestinya selalu berusaha dan wajib bersungguh-sungguh berjuang untuk
menghadirkan Allah dalam kehidupannya.



Mari kita terus
saling berwasiat untuk mengiigatkan. Dari rutinitas harian saja, kita bisa
memulainya. Secara prajtis agar (ridha) Allah menyertai tidur kita, maka
kita hadirkan dengan doa bismikallahumma ahya wa bismika amuutu. Saat bangun
kita pajadkan syukur alhamdulillahilladzi ahyana bakda ma amatana wa ilaihi
nusuur. Saat akan melakukan apapun juga kita awali hanya dengan
menyandarkan kepadaNya bismillahirrahmanirrahim dan mengakhirinya dengan
rasa syukur karenanya alhamdulillahirabbil 'alamiin.



Lahaula wala
quwwata illa billah


 


Waspada Lagha


Muhasabahb18
Zulhijjah 1436







Hampir
semua kita memiliki rutinitas dan aktivitas keseharian dalam mengarungi
kehidupan ini. Bedanya adalah pada rutinitas dan aktivitas apa, dengan
siapa, di mana, kapan dilakukan, mengapa dilakukan dan bagaimana dilakukan.
Dalam konsep teoretis rutinitas dan aktivitas itu nantinya akan menyejarah,
maka harus dicermati dari perspektif 5 W 1 H (what, who, when, where, why
dan how)


Rutinitas
dan aktivitas apa yang dilakukan idealnya harus tetap nempertimbangkan
ranah nilai aksiologis sehingga membawa kemaslahatan diri, keluarga,
bangsa, negara dan agama. Karena di sinilah kemudian rutinitas dan
aktivitas itu menjadi perbuatan atau bahkan kebiasaan. Dalam bahasa agama
kemudian disebut akhlak. Rutinitas dan aktivitas yang membawa kemaslahatan
disebut akhkakul karimah, sedangkan yang membawa kemudharatan dikenal
dengan akhlakul mazmumah.


Namun
harus diingat juga bahwa meskipun ada beberapa aktivitas yang diperbolehkan
secara syar'i, tetapi dilakukan secara berlebihan menurut kepatutan, maka
sebaiknya dihindari. Ada beberapa contoh sederhana yang ada di sekitar kita
untuk kategori ini, sehingga harus berhati-hati, misalnya makan, minum,
bersendau gurau, dan aktivitas semacam ini lainnya.


Teristimewa
dalam kebiasaan ke kedai kopi atau nongkrong di cafe. Saya lihat ini adalah
aktivitas yang lumrah, biasa saja, dan ada di mana-mana, tak tetcecuali di
Indonesia. Namun ternyata ada beda antara satu dengan lainnya. Ada banyak
kalangan pergi ke kedai kopi atau cafe hanya sekedarnya saja ya hanya untuk
minum kopi dan nembicarakan sesuatu urusan seperlunya setelah itu
nelanjutnya kerja, tetapi juga tidak sedikit yang justru menghabiskan
waktu-waktu terbaiknya di sana dengan tidak berbuat apa-apa.


Semoga
tidak lahir generasi yang terjebak pada lagha (perkataan dan perbuatan yang
tak bermanfaat).



Top
of Form




Bottom
of Form







 











Muhasabah 19
Zulhijjah 1436



Darurat Akhlak

Menjelang akhir tahun 1436 ini terdapat perkembangan yang mengkhawatirkan.
Dari sudut ekologi, Indonesia masih harus menghadapi sejumlah masalah,
misalnya yang paling santer adalah adanya darurat asap yang melanda bukan
saja Sesumatra dan Sekalimantan, tetapi juga ke negara tetangga, Brunei,
Singapura dan Malaysia. Bahkan kini kabut asap akibat pembakaran hutan itu
sudah mulai membayakan jiwa manusia. Dari Jawa Timur, kita dengar berita adanya pembunuhan terhadap pegiat sosial Salim
Kancil yang menyuarakan anti penambangan liar.



Dari segi ekonomi,
misalnya kita dengar darurat rupiah, ditandai dengan melemahnya kurs rupiah
terhadap nilai tukar dolar Amerika yang hampir menembus Rp. 15.000. Hal ini
berimbas pada kenaikan berbagai komoditi dan berbagai hajat hidup. Sejak
harga sembako hingga tiket pesawat melambung tinggi.



Dari sektor
perhubungan ditandai dengan dikejutkan kabar hilang kontaknya pesawat
Aviastar di wilayah Makasar. Belum lagi berbagai kecelakaan lalu lintas,
kereta api, kapal dan lain sebagainya yang terjadi senbelumnya



Dari segi
pendidikan, ternyata terus dihadapkan dengan banyak problem. Sejak dari
kebijakan pemberlakuan kurikulum yang rada mengambang terutama pemberlakuan
K13, ketersediaan sdm sampai output yang belum mencirikan terpelajar. Baru-baru
ini kita mendengar berita pembunuhan seorang siswa oleh temannya sendiri,
seperti yang terjadi di Aceh Besar dan di Jakarta.



Dari berbagai
kesenjangan yang terus terjadi, jangan-jangan bermuara pada darurat akhlak.


 


Muhasabah
20 Zulhijjah 1436






Identitas Bangsa

Secara stereotipe, bangsa Indonesia khususnya dan negara-negara di Asia
Tenggara umumnya dikenal memiliki identitas ketimuran. Identitas ketimuran
yang diuri-uri dan diwariskan oleh bangsa timur ini bermuara pada keluhuran
akhlak, ketinggian budi pekerti dan keadiluhungan peradaban. Oleh karena
itu, kita juga sering diwanti-wanti oleh para bijak orangtua kita bahwa
identitas ketimuran tetsebut harus terpelihara. Di sinilah transfer nilai
antargenerasi menjadi signifikan.


Dalam
historitasnya, identitas ketimuran yang telah mengakar kuat pada bangsa
Indonesia ternyata senantiasa dihadapkan pada benturan peradaban, akibat
persinggungan budaya yang kian menglobal. Sekarang ini dunia menjadi tanpa
sekat dan jarak, sehingga apa saja terasa dekat dan rapat. Di sinilah nilai
dan budaya muatan lokal bangsa yang adi luhung berinteraksi dan saling
memengaruhi dengan nilai dan budaya global dari manapun juga datangnya.


Ya,
memang! benturan peradaban (clash of civilization) adalah sebuah
keniscayaan. Namun hilangnya identitas merupakan awal kehancuran. Karena
hanya dengan identitas yang jelas sebuah bangsa menjadi bermartabat dan
terhormat. Ketika kearifan dan keluhuran bangsa mulai terkikis dan
tercerabut dari akar budayanya, lalu apa yang akan kita wariskan kepada
anak cucu kita? Apa yang akan menhadi kebanggaan kita? Padahal sebelumnya,
akhlakul karimah sebagai inti ketimuran menjadi identitas bangsa kita.



Top
of Form




Bottom
of Form







 











Muhasabah 21
Zulhijjah 1436



Makhluk Ruhani

Secara stereotipe,
memang manusia terdiri dari dua unsur, ruhani dan jasmani. Unsur ruhani
merupakan sisi dalam atau batiniyah diri manusia sedangkan unsur jasmani
merupakan sisi luar, lahiriyah diri manusia. Namun jati diri kemanusiaannya
sejatinya lebih ditentukan oleh sisi dalam yang ada pada dirinya. Oleh
karenanya para bijak juga mengingatkan bahwa hakikat manusia tergantung
pada ruhaninya, terletak pada spiritualitasnya.



Jauh-jauh hari,
Nabi Muhamnad saw juga sudah mewanti-wanti bahwa dalam diri manusia
terdapat segumpal daging, ketika baik kondisinya maka baik juga
lahiriyahbya, ketika buruk kondisinya maja buruk juga lahiriyahnya. Nabi
menuturi bahwa segumpal daging yang dimsksudkan di sini adalah hati sebagai
sisi dalam diri manusia. Oleh karenanya, mengapa kemudian kita menyadari
bahwa dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini, mestinya selalu dipandu
oleh hati nurani; sisi dalam yang tercerahkan atau disinari tuntunan Ilahi.



Di salah satu tv
swasta juga sering menayangkan pesan bahwa manusia bukanlah makhluk jasmani
yang sedang menjalani kehidupan ruhani, tetapi makhluk jasmani yang tengah
menjalani kehidupan jasmani. Apalagi bila kita yakini bahwa ruh (ruhani)
adalah bagian yang kekal abadi. Karena sejak awal penciptaannya, semua
ruhani mausia telah mengikat janji primordialnya terhadap kwbebaran akan
Rabbnya (cermati QS. Al-A'raf 172).



Pastikan bahwa
kita di sini adalah makhluk ruhani yang tengah menjalani kehidupan jasmani


 


Muhasabah 22
Zulhijjah 1436






Makhluk Unik


(Catatan Saat Menuju Kota Langsa)


Dalam muhasabah
lalu dinyatakan bahwa manusia merupakan makhluk ruhani yang tengah
menjalani kehidupan jasmani. Artinya secara ideal manusia mestinya selalu
memenangkan sisi dalam, ranah esoterik, spiritualitas dan akhlakul karimah.
Namun karena kehidupan di dunia ini, tidak bisa dielakkan dari kepentingan
jasadiyah, maka manusia kemudian menjadi satu-satunya makhluk ciptaan Allah
yang paling unik.



Pertama, meskipun
pada dasarnya membawa fitrah yang suci dan baik, namun tetap saja manusia
berpotensi kotor dan menjadi tidak baik (perangainya). Jadi manusia bisa
tetap baik dan bisa menjadi jahat.



Kedua, meskipun
pada masa primordialnya telah berjanji dan mengakui akan keesaan Allah
semata, namun tetap saja manusia berkemungkinan menjadi penganut
politheisme atau bahkan mengingkari keberadaan Rabbnya. Jadi manusia bisa
tetap Islam, tapi bisa yang lainnya.



Ketiga, dalam
Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang berisi pujian terhadap manusia, namun
di tempat yang berbeda juga terdapat celaan atasnya. Jadi manusia bisa
dipuji tapi juga bisa dicela.



Keempat, jagad
raya seisinya ini diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia, tetapi
tidak sebaliknya. Di sini manusia dicipta untuk mengabdi pada Rabbnya.



Kelima, manusia
berpeluang memiliki dan merefleksikan sifat-sifat dari makhluk-makhluk yang
ada. Ada yang mampu meneladani sifatnya Allah, meskipun tidak akan pernah
bisa menyamaiNya. Ia akan tampil menjadi pemaaf, pelindung, pemberi,
penyemangat, pengayom dst. Ada manusia yang bersifat seperti malaikat yang
menginspirasi dan mengilhani kebajikan. Namun ada juga di antara manusia
yang memiliki sifat batu-batuan, atau sifat tetumbuhan, dan yang lain
bersifat seperti binatang, bahkan ada yang berperilaku seperti setan.



Pastikan menjadi
lebih manusiawi yang mampu mengabdi.





Muhasabah 23
Zulhijjah 1436

Pendidikan Karakter

Mengingat manusia merupakan makhluk yang paling unik, sebagaimana muhasabah
sebelumnya, maka meniscayakan pengarahan, penuntunan, pembinaan. Inilah
pendidikan sebuah proses memanusiakan manusia. Apalagi ada fenomena sosial
seperti meningkatnya kenakalan remaja, seperti tawuran, pembunuhan teman
sendiri, terlibat narkoba, terjebak perilaku seks bebas, korupsi
merajalela, dan berbagai kasus dekadensi moral lain yang melanda di negeri ini.






Muara dari
berbagai penyimpangan tersebut bersumber pada sisi dalam, ranah esoterik,
spiritualitas, jiwa yang timpang. Oleh karenanya banyak tuntutan adanya
penguatan pendidikan karakter. Karakter adalah bawaan, hati, jiwa,
kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat,
temperamen, watak. Seseorang yang berkarakter baik adalah seseorang yang
berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan, dirinya, sesama
manusia dan lingkungan sekitarnya.



Pendidikan
karakter adalah suatu proses transfer nilai dari pendidik kepada peserta
didik, sehingga nilai tersebut diketahui, disadari dan dikukuhkan dalam
praktik kehidupan.



Pendidikan
karakter sejatinya memiliki esensi dan tujuan yang sama dengan pendidikan
akhlak, meskipun tetap dapat dibedakan dari sisi lainnya. Misalnya pada
landasan filosofi pendidikan akhlak jelas teosentris-humanisme sedangkan
landasan filosofis karakter ada pada humanisme. Bila dengan mudah merujuk
dan menyebut figur sentral sebagai idola pendidikan akhak, maka tidak hal
yang sama tidak terjadi pada pendidikan karakter. Namun tujuan pendidikan
akhlak dan pendidikan karakter sama-sama melahirkan peserta didik yang
memiliki kepribadian yang baik. Orang yang berkepribadian baik adalah orang
yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosial tertentu, baik nilai itu
dipengaruhi oleh agama maupun budaya (kearifan lokal) bangsanya. Kearifan
lokal sebagai nilai yang dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia pada
umumnya bersesuaian dengan nilai-nilai yang bersumber dari ajaran agama
(Islam). Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter di Indonesia
adalah proses transfer nilai religiusitas yang bersumber dari al-Qur’an,
al-Hadis dan budaya bangsa Indonesia yang adi luhung.








Keniscayaan
Pendidikan Karakter











Muhasabah 24
Zulhijjah 1436



Pendidikan
karakter merupakan keniscayaan melintasi area, masa dan usia. Pendidikan
karakter mutlak diperlukan bukan hanya di institusi formal seperti
madrasah atau sekolah saja, tetapi juga institusi informal di rumah dan
institusi nonformal di lingkungan sosial masyarakat lainnya.



Pendidikan
karakter, semestinya diprioritaskan sejak dahulu kala, kini dan masa
datang. Bahkan sekarang ini pendidikan karakter bukan saja diarahkan
kepada anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa atau usia
manula sekalipun. Karena bisa saja dekadensi moral dan kenakalan anak
remaja yang terjadi di negeri ini disebabkan oleh “ketidakpedulian,
kebodohan dan kenakalan orangtuanya”.



Oleh karenanya
pendidikan karakter harus dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dan
simultan untuk membantu siapa saja memahami nilai-nilai perilaku manusia
yang berhubungan dengan dirinya, sesama manusia, lingkungan dan Rabbnya.



Sebagai makhluk
berbudaya, maka manusia harus memiliki komitmen terhadap karakter atau
moralitas yang dijunjung tinggi. Oleh karenanya karakter, perilaku, akhlak
atau moralitas yang dijunjung tinggi ini tidak hanya harus diwariskan akan
tetapi juga harus diaplikasikan dalam keseharian hidup manusia.



Secara teoretik,
prosesnya dapat ditempuh melalui tiga tahap, yaitu sosialisasi pengenalan
(introduksi), penghayatan (internalisasi), dan pengukuhan (aplikasi) dalam
kehidupan. Dalam bahasa agama kita mengenal tahap 3T, takhali, tahali,
tajjali atau zerro mind process, mental building dan total action.


 


Muhasabah 25
Zulhijjah 1436





Takhali

Tahap pertama
proses pemanusiasn manusia adalah takhali. Tahap ini dipahami sebagai upaya
pembersihan hati dan pikiran dari segala yang menodainya. Hati manusia pada
dasarnya baik, pemenang, suci, Islam, dan membawa asal kejadian yang dalam
Islam disebut fitrah.



Setelah lahir lalu
berinteraksi dengan sosioekonomis, sosiokultur, sosioreligius keluarga dan
masyarakat sekitarnya, manusia kemudian tumbuhberkembang sesuai dengan
takdir atas pilihannya masing-masing. Di sinilah fitrah teruji; akankah
tetap dalam kefitrahannya ataukah sebaliknya.



Karena fitrah
merupakan jatidiri manusia, maka selainnya atau apasaja yang bertentangan
dengan fitrah adalah topeng, tutup, sampul, atau cover (kafir).



Karena kebaikan
merupakan jatidiri manusia, maka perilaku jahat seperti mengganggu,
mengadudomba, takabur adalah jatidirinya setan.



Karena pemenang
merupakan fitrah manusia, maka keterjajahan diri atas setan dan hawa nafsu
adalah kekalahan selagis kelemahan.



Karena suci
merupakan jati diri manusia, maka kotor dan perbuatan dosa adalah tirai
yang menutupi fitrhnya



Menurut iman kita,
Islam merupakan jatidiri manusia, maka selainnya adalah pilihan yang
berisiko hidup merugi di sini dan akhirat nanti.



Segala dosa akibat
dari kebodohan, kelalaian, kekhilalafan, kemunafikan, kekafiran atau yang
paling karena kemusyrikan merupakan tutup, sampul, topeng yang datangnya
belakangan. Oleh karenanya perlu dibersihkan. Upaya pembersihan mestinya
dilakukan secara lebih intensif, sehingga kelihatan aslinya, nyata
jatidirinya, aktual Islamnya.



Pastikan bersih
hati agar mencerahkan.




 


Muhasabah 26
Zulhijjah 1436






Tahali

Seiring dengan
proses pembersihan dan pengosongan hati dari segala yang mengotorinya,
tahap pemanusiaan manusia selanjutnya adalah tahali. Tahali dimaknai
sebagai proses mental building; pembangunan spiritualitas, penghiasan hati
sehingga eksistensinya indah mempesona.



Hiasi hati dengan
akhlak terpuji, seperti rindu, cinta, kasih sayang, indah, kreatif, qanaah,
pemurah, pelindung, penyejuk, pemakmur, pemelihara, pelestari. Karena hanya
dengan ini untuk memperoleh kebahagiaan sejati. Apalagi bila kita ingat
bahwa manusia pada dasarnya suci dan membawa fitrah.



Bila di hati masih
ada benci dan dendam, maka segeralah diganti dengan cinta dan kemaafan.
Bila di hati masih tersimpan rasa malas dan keputusasaan, maka cepatlah
berhias dengan semangat dan kreativitas. Ketika di hati masih terbersit
rasa ingin menang sendiri, ingin berkuasa sendiri, ingin dipujapuji maka
segeralah berubah menjadi pribadi yang rendah hati, tasamuh dan ikhlas.



Bila hari-hari
berlalu seolah tanpa makna, maka segeralah berbenah dari yang kecil selagi
bisa. Awali, sertai dan akhiri apa saja yang kita pikir dan kerjakan dengan
doa.








Muhasabah 27
Zulhijjah 1436



Tajalli

 Seiring dengan -
dan tahap selanjutnya setelah - takhalli dan tahalli proses pemanusiaan
manusia adalah tajalli. Tahap ini dimaknai sebagai total action, aksi nyata, membumikan nilai-nilai religiusitas,
dan aktualisasi fitrah.



Hiasan hat
biasanyai mempribadi dan mestinya membumi; dirasakan oleh sebanyak-banyak
pihak di bumi ini. Berhias diri dengan sifat kasih sayang merupakan
keutamaan, namun bisa mengasihi dan menyayangi sesamanya atau bahkan semua
makhluk di bumi merupakan sesempurna kesalihan. Menghiasi hati dengan
kemaafan merupakan tuntunan kebaikan, namun bisa memaafkan sesama dan
mencari persamaan dalam pergaulan merupakan pijakan kebersamaan dan
kedamaian semesta.



Bila mata melihat
kesemrawutan yang ada di sekitar kita, maka janganlah berhenti pada
tumbuhnya perasaan tidak nyaman, tetapi segeralah singsingkan baju turun
tangan untuk merapikan sehingga enak dipandang. Bila telinga mendengar
keluh kesah kesengsaraan sesamanya, maka hendaknya tidak memada pada rasa
iba, tetapi segeralah melalkukan aksi nyata untuk membantunya. Dan
seterusnya dan seterusnya.



Menghiasi hati
dengan segala sifat terpuji merupakan tuntutan bahkan kewajiban, namun
mengejawantahkan dalam perilaku sehari-hari jauh menjadi sekedar kebutuhan.
Karena ia layaknya menjadi kelezatan yang harus dipeluk dan dirasakan oleh
orang-orang beriman.




Muhasabah 28
Zulhijjah 1436




Aktualisasi Firah

 Ketiga proses
pemanusiaan manusia, takhalli tahalli dan tajalli sejatinya merupakan
aktualisasi fitrah. Menurut iman kita, setiap orang dilahirkan ke dunia
dalam kondisi fitrah yang bersifat potensial. Inilah kemudian dalam dunia
pendidikan dikenal dengan potensi internal sebagai faktor dalam. Karena
potensi ini dibawa sejak lahir maka juga disebut faktor bakat atau bawaan.



Potensi internal,
faktor dalam, faktor bakat atau faktor bawaan lainnya yang sudah
dianugrahkan oleh Allah kepada setiap orang mestinya harus disyukuri dengan
mensinergikan dengan faktor eksternal, usaha dari luar, faktor ajar atau
faktor dapatan lainnya. Teori internal dan eksternal, faktor dalam dan
luar, teori bakat dan ajar, teori bawaan dan dapatan idealnya dipwrhatikan
sehingga dapat menerima dan memberi sehingga lebih sempurna dalam
mengaktualisasikan fitrahnya. Di sinilah letak pentingnya sebuah proses dan
signifikansinya usaha, yang lazim dikenal dengan pendidikan.



Faktor internal,
bakat dan potensi bawaan karena taken for granted tentu harus dikenali dan
dipahami, untuk kemudian bisa dikembangkan, dipupuk dan diberdayakan dengan
pendidikan. Akan tetapi pendidikan di sini menjadi kunci.



Dengan demikian
pendidikan sejatinya proses aktualisasi fitrah. Karena aktualisasi fitrah
merupakan hasil sekaligus proses pemanusiaan manusia, maka sejati-jatinya
manusia atau manusia sesungguhnya adalah ketika ia tetap istiqamah berada
dalam kefitrahannya








Muhasabah 29 Zulhijjah 1436




Fitrah

Fitrah sebagai jatidiri setiap orang menjadi tidak aktual ketika tidak
mendapatkan perhatian, sentuhan dan perlakuan yang benar dalam interaksinya
di dunia ini.


Untuk sekedar mendekatkan, analoginya bisa diperhatikan pada benih suatu
tananam. Biji padi, kacang-kacangan, kedelai, jagung, jeruk, apel, mangga
atau benih apapun juga secara potensial akan tumbuhberkembang menjadi
tunas, tanaman, pohon dan bahkan berbuah sesuai karaktetistik
masing-masing. Hal ini bisa terjadi hanya ketika benih-benih tersebut berada
atau disemai pada lahan yang subur, mendapat air dan sinar mentari yang
cukup, bahkan juga dirawat, dipupuk, disiangi, dipagari, dijaga dan
disayangi. Inilah sunnatullah.


Sebaliknya biji atau benih seunggul apapun juga, bila berada di tanah
yang tandus atau disemai di lahan yang tidak kondusif, apalagi tidak
mendapat air dan tidak mendapat sinar mentari yang cukup, juga tidak
dirawat dan tidak dijaga, maka dipastikan tidak akan tumbuhberkembang
menjadi tanaman yang menghasilkan. Inilah sunnatullah.


Ya semua itu merupakan sunnatullah; nature of law; ketentuan Allah atas
makhluk-makhlukNya. Oleh karenanya dalam rangka mengaktualisasikan fitrah
dalam kehidupan dapat ditempuh dengan beberapa usaha.


Pertama, berusaha maksimal untuk memberikan perawatan, pemupukan,
pembersihan, penyucian, dan pemenuhan kebutuhan terhadap fitrah yang dibawa
oleh setiap orang merupakan kelaziman yang tidak bisa ditawar-tawar.

.

Kedua, berusaha maksimal untuk menyediakan dan memilih lingkungan yang
kondusif, baik lingkungan hidup maupun lingkungan sosial kemasyarakatan
untuk tumbuhberkembangnya fitrah merupakan keniscayaan.


Ketiga, senantiasa berdoa dan menggantungkan harapan akan kelestarian
dilimpahkanNya hidayah oleh Allah atas karunia aktualnya fitrah dalam
kehidupan. Allahu A'lam







 Renungan Akhir Tahun