Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa Saja Perbedaan Muhammadiyah dan Salafi?

Apa Saja Perbedaan Muhammadiyah dan Salafi?


Muhammadiyah dan Salafi adalah dua gerakan Islam yang memiliki perbedaan dalam beberapa hal, seperti pemahaman tentang sumber ajaran, metode ijtihad, sikap terhadap bid'ah, dan hubungan dengan negara. Artikel ini akan membahas perbedaan-perbedaan tersebut secara lebih rinci, serta menunjukkan persamaan dan tantangan yang dihadapi oleh kedua gerakan ini.

Sumber Ajaran

Muhammadiyah adalah organisasi Islam modernis yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912. Muhammadiyah berpegang pada Al-Qur'an dan Hadis sebagai sumber utama ajaran Islam, serta mengakui peran ijma' (konsensus ulama) dan qiyas (analogi) sebagai sumber sekunder. Muhammadiyah juga menghormati empat mazhab fiqih (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali), tetapi tidak mengikat diri pada salah satu mazhab tertentu. Muhammadiyah berusaha melakukan ijtihad (penyelidikan hukum) secara kolektif dan kontekstual untuk menyesuaikan ajaran Islam dengan perkembangan zaman.

Salafi adalah gerakan Islam puritan yang berasal dari gerakan Wahabi di Arab Saudi pada abad ke-18. Salafi berpegang pada Al-Qur'an dan Hadis sebagai sumber tunggal ajaran Islam, serta menolak peran ijma', qiyas, dan mazhab fiqih sebagai sumber lain. Salafi berusaha mengikuti pemahaman salafus shalih (generasi awal Islam) secara harfiah dan tekstual tanpa melakukan ijtihad. Salafi menganggap bahwa ajaran Islam sudah sempurna dan tidak perlu disesuaikan dengan zaman.

Metode Ijtihad

Muhammadiyah memiliki lembaga khusus yang bertugas melakukan ijtihad, yaitu Majelis Tarjih dan Tajdid. Lembaga ini terdiri dari para ulama yang memiliki kompetensi dalam bidang ilmu-ilmu keislaman, seperti tafsir, hadis, fiqih, ushul fiqih, sejarah, dan lain-lain. Majelis Tarjih dan Tajdid melakukan ijtihad secara kolektif dengan menggunakan metode-metode ilmiah, rasional, dan kritis. Hasil ijtihad Majelis Tarjih dan Tajdid tidak bersifat mengikat bagi anggota Muhammadiyah, tetapi sebagai panduan dan referensi.

Salafi tidak memiliki lembaga khusus yang bertugas melakukan ijtihad, karena mereka menganggap bahwa ijtihad sudah tidak diperlukan lagi. Salafi hanya mengikuti pemahaman salafus shalih yang dianggap sebagai sumber otoritatif dalam menentukan hukum-hukum Islam. Salafi tidak menggunakan metode-metode ilmiah, rasional, atau kritis dalam memahami ajaran Islam, tetapi hanya mengandalkan teks-teks Al-Qur'an dan Hadis secara literal.

Sikap terhadap Bid'ah

Muhammadiyah memiliki sikap moderat terhadap bid'ah (inovasi dalam agama). Muhammadiyah membedakan antara bid'ah hasanah (inovasi baik) dan bid'ah sayyi'ah (inovasi buruk). Bid'ah hasanah adalah inovasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan bermanfaat bagi umat. Contoh bid'ah hasanah adalah pendirian sekolah-sekolah Islam modern, rumah sakit-rumah sakit Islam, panti asuhan-panti asuhan Islam, dan lain-lain. Bid'ah sayyi'ah adalah inovasi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam dan merugikan umat. Contoh bid'ah sayyi'ah adalah menyembelih hewan untuk selain Allah, merayakan hari-hari tertentu yang tidak ada dasarnya dalam Islam, melakukan ritual-ritual yang tidak ada dalilnya dalam Al-Qur'an atau Hadis, dan lain-lain. Muhammadiyah menerima bid'ah hasanah dan menolak bid'ah sayyi'ah.

Salafi memiliki sikap keras terhadap bid'ah. Salafi menganggap bahwa semua bentuk bid'ah adalah bid'ah sayyi'ah yang harus dihindari dan ditolak. Salafi tidak membedakan antara bid'ah hasanah dan bid'ah sayyi'ah, karena mereka menganggap bahwa semua inovasi dalam agama adalah penyimpangan dari ajaran salafus shalih. Salafi menuduh Muhammadiyah dan gerakan-gerakan Islam lainnya sebagai ahli bid'ah yang telah menyelisihi sunnah Nabi Muhammad SAW.

Hubungan dengan Negara

Muhammadiyah memiliki hubungan yang baik dengan negara. Muhammadiyah mengakui Pancasila sebagai ideologi negara dan UUD 1945 sebagai konstitusi negara. Muhammadiyah juga menghormati simbol-simbol negara, seperti bendera, lambang, dan lagu kebangsaan. Muhammadiyah berpartisipasi dalam pembangunan nasional melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lain-lain. Muhammadiyah juga mengkritik kebijakan-kebijakan negara yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.

Salafi memiliki hubungan yang buruk dengan negara. Salafi tidak mengakui Pancasila sebagai ideologi negara dan UUD 1945 sebagai konstitusi negara. Salafi juga tidak menghormati simbol-simbol negara, seperti bendera, lambang, dan lagu kebangsaan. Salafi menolak berpartisipasi dalam pembangunan nasional, karena mereka menganggap bahwa hal itu adalah bentuk loyalitas kepada sistem kafir. Salafi juga menentang kebijakan-kebijakan negara yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam.

Persamaan dan Tantangan

Meskipun memiliki perbedaan-perbedaan yang cukup signifikan, Muhammadiyah dan Salafi juga memiliki persamaan dalam beberapa hal, seperti:

- Keduanya berusaha mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadis.

- Keduanya memiliki komitmen yang tinggi dalam menjaga kemurnian aqidah (keyakinan) Islam.

- Keduanya memiliki semangat dakwah (penyiaran) Islam kepada masyarakat.

- Keduanya memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah umat Islam di dalam dan luar negeri.

Namun, kedua gerakan ini juga menghadapi tantangan-tantangan yang tidak ringan, seperti:

- Kurangnya dialog dan kerjasama antara kedua gerakan ini dalam menyelesaikan masalah-masalah umat Islam.

- Adanya sikap saling menyalahkan dan mencela antara kedua gerakan ini yang dapat memecah belah persatuan umat Islam.

- Adanya pengaruh-pengaruh ekstremisme dan radikalisme yang dapat merusak citra Islam sebagai agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Kesimpulan

Muhammadiyah dan Salafi adalah dua gerakan Islam yang memiliki perbedaan dalam beberapa hal, seperti pemahaman tentang sumber ajaran, metode ijtihad, sikap terhadap bid'ah, dan hubungan dengan negara. Namun, kedua gerakan ini juga memiliki persamaan dalam beberapa hal, seperti komitmen dalam mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan Al-Qur'an dan Hadis, menjaga kemurnian aqidah Islam, melakukan dakwah Islam kepada masyarakat, dan peduli terhadap masalah-masalah umat Islam. Kedua gerakan ini juga menghadapi tantangan-tantangan yang tidak ringan, seperti kurangnya dialog dan kerjasama antara kedua gerakan ini, adanya sikap saling menyalahkan dan mencela antara kedua gerakan ini, dan adanya pengaruh-pengaruh ekstremisme dan radikalisme yang dapat merusak citra Islam. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan toleransi, saling menghargai, dan saling bekerjasama antara kedua gerakan ini demi kepentingan umat Islam dan bangsa Indonesia.