Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Doa agar Pandai Bersyukur

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 22 Dzulhijjah 1442

Doa agar Pandai Bersyukur
Saudaraku, tema muhasabah hari ini masih berusaha mengambil ibrah dari doa atau permohonan yang disuriteladankan oleh para rasul yang diabadikan oleh Allah dalam al-Qur’an. Kali ini tentang permohonan yang disampaikan oleh Nabi Sulaiman as agar menjadi hambaNya pandai bersyukur. 

Inilah keagungan Nabi Sulaiman as, sudah kaya raya dan cerdas juga pandai bersyukur. Nabi Sulaiman as dianugrahi ilmu, mewarisi kerajaan dari Nabi Daud as ayahandanya, dab dianugrahi banyak keistimewaan yang tak lazim, seperti diabadikan Allah dalam firmanNya.

Allah berfirman yang artinya: Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman, dan keduanya mengucapkan, "Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.” Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata, "Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) itu benar-benar suatu karunia yang nyata.” Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia , dan burung; lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan)" 

Berkatalah seekor semut, "Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarang kalian, agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhai.” (Qs. Al-Naml 15 19)

Nabi Sulaiman, sudah 'abid, cerdas dan kaya raya, masih berdoa memohon kepada Allah agar dianugrahi ilham (bisikan kebaikan, ilmu dan kekuatan) yang dapat memampukan dirinya menjadi hambaNya yang pandai bersyukur dan  ilham (bisikan kebaikan, ilmu dan kekuatan) yang dapat memampukan dirinya menjadi hambaNya yang istikamah beramal shalih sehingga memperoleh keridhaan Allah. Dengan demikian, untuk menjemput keridhaan Allah setidaknya harus bersyukur dan beramal shalih.

Keridhaan Allah meniscayakan kerelaan atau kepenerimaan sepenuhnya terhadap hamba-hambaNya karena jelas-jelas berada di atas jalanNya. Jadi keridhaan itu mengatasi kebolehan atau keizinan, karena kebolehan atau keizinanNya belum tentu hanya pada hal-hal yang baik saja, tetapi juga pada yang sebaliknya. Oleh karenanya, dicontohkan oleh Nabi Sulaiman as bahwa untuk menjemput keridhaan Allah dapat melalui bersyukur dan beramal shalih.

Bersyukur kepada Allah itu berarti mengukuhkan relasi vertikal, sedangkan beramal shalih bermakna mengukuhkan rekasi horisontal yang didasari dengan iman. Dari permohonan agar dapat bersyukur dan beramal shalih ini sekaligus menegaskan bahwa Nabi Sulaiman as jauh sekali dari siksp sombong.

Di dunia ini, tentu merupakan sikap yang sangat keterlaluan dan tidak etis, bila dikaruniai kelebihan (rupa, ilmu, talenta, tahta, keluarga) sedikit saja sudah ada yang berlagak, sombong atau menyombongkan dirinya. Padahal sikap takabur ini justru hanya akan menjadi penghalang bagi Allah untuk mengaruniai kelebihan lainnya atau yang lebih banyak, bila tidak istihdraj. Allahu a'lam