Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Doa Diakhiri Hamdalah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 30 Dzulhijjah 1442

Doa Diakhiri Hamdalah
Saudaraku, muhasbah selama bulan Dzulhijjah ini, kita mengambil ibrah tentang doa atau permohonan yang disampaikan oleh para rasul yang direkam oleh Allah dalam al-Qur'an. Doa sebagai tuntutan, tuntunan dan sebagai tatanan peradaban Islam seperti dikemukakan di muhasabah pertama, benar-benar melembaga dalam kehidupan diri dan masyarakat muslim. Oleh karenanya dalam kondisi apapun, umat Islam senantiasa berdoa memohon kepada Allah sebagaimana dicontohkan oleh para rasul dan orang-orang beriman pasa masa silam. 

Dalam muhasabah ke-2 diingatkan tentang permohonan ketika berlaku salah sebagaimana doa yang dipanjatkan oleh Nabi Adam dan Hawa saat terlanjur memakan buah khuldi sebagai pertanda pertaubatannya. Demikian juga doa Nabi Nuh yang memohon mengampuni anaknya yang durhaka (muhasabah ke-3). 

Adapun doa Ibrahim agar kepemimpinan umat berada pada anak cucunya menjadi tema muhasabah ke-4. Dan disusul dengan doanya atas empat hal, yakni keridhaan atas eksistensi diri termasuk amalannya, kepenyerahan diri secara total atau keberislaman sampai ke anak cucu keturunannya, kaifiyat dalam beribadah termasuk haji dan pertaubatan yang makbul (muhasabah 5), agar dianugrahi anak shalih  (muhasabah ke-6), agar istikamah mendirikan shalat (muhasabah ke-7), memohon ampunan  (muhasabah ke-8) dan kesejahteran negeri (muhasabah ke-9). 

Saking banyaknya nikmat yang dikaruniakan Allah atas hamba-hambaNya, maka doa agar tetap menjadi hambaNya yang pandai bersyukur (muhasabah ke-10) menjadi sangat penting. Dan sebagai bukti syukur atas kenikmatan yang banyak adalah shalat dan betkurban. Ya terutama yang disyariatkan berkurban pada hari rsya idul adha dan tiga hari tasyrik berikutnya. Oleh karenanya di sini juga diingatkan tentang doa saat berkurban (muhasabah ke-11), doa hari tasyrik (muhasabah ke-12).  

Sekali lagi, betapa banyak nikmat Allah atas hamba-hambaNya yang mestinya disyukuri. Inilah sikap yang dicontohkan oleh para rasul, makanya Nabi Ibrahim, misalnya berdoa agar dianugrahi hikmah dan menjadi bagian dari orang-orang shalih. Dua hal yang sangat mendasar bagi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat (muhasabah ke-13). Meskipun sudah berusaha menjaga hablum minallah dan hablum minannas, namun penting juga seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim tetap memohon agar dikenang dan menyejarah (muhasabah ke-14) agar mewarisi surga (muhasabah ke-15), berharap Allah nantinya mengutus rasul dari keturunannya sendiri (muhasabah ke-16), dan semua ini diijabah oleh Allah ta'ala.

Seterusnya dalam menjalani hidup dan krhidupan di dunia ini, penting rasanya berdoa memohon agar terhindar dari fitnah dari manapun datangnya apalagi dari orang-orang kafir (muhasabah ke-17). Ketika kehidupan dalam kondisi cheos atau jahiliyah atau ada mara bahaya yang mengancam lainnta, kita bisa memohon agar diselamatkan (muhasabah ke-18) seperti yang dilakukan oleh Nabi Yunus as saat dalam kegelapan di perut ikan yang menelannya (muhasabah ke-19)., dan juga memohon agar dilindungi dari kezaliman (muhasabah ke-20). 

Secara internal, menjadi sangat penting juga memohon pada Allah agar hati tercerahkan sehingga mudah dalam segala urusan (muhasabah ke-21) dan agar pandai bersyukur (muhasabah ke-22). Sejurus dengan itu harus memohon perlindungan dari bisikan setan yang selalu menggoda (muhasabah ke-23). 

Dalam kehidupan berkeluarga, memohon anggota keluarga quratal akyun (muhasabah ke-24) menjadi di antara doa yang lazim disampaikan okeh keluarga muslim, di samping memohon rezeki (muhasabah ke-25), agar tetap dalam hidayah (muhasabah ke-26), dianugrah ilmu yang bermanfaat (muhasabah ke-27), doa kesempurnaan cahaya (muhasabah ke-28), dan doa agar bisa meraih surga (muhasabah ke-29). 

Adapun hHmari ini hari ke-30 Dzulhijjah ini diingatkan tentang etika mengakhiri doa yakbi dengan hamdalah, alhamdulillahi rabb al-alamin. Mengapa? Ya secara umum doa atau saat akan melakukan aktivitas apapun diawali dengan membaca basmalah dan mengakhirinya membaca hamdalah. Di samping itu, kita harus terus memuji Allah, zat yang maha mengatur hal ikhwal seluruh alam semesta.

Inilah mengapa dalam kelaziman saat berdoa kemudian diakhiri dengan membaca tiga ayat terakhir dari surat al-Shaffat.

سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَۚ.

وَسَلٰمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَۚ

وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ

Maha Suci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan.Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. (Qs. Al-Shaffat 180-182). Maha benar Allah dengan segala firmanNya.