Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Doa Nabi Muhammad Saat Kurban

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 11 Dzulhijjah 1442

Doa Nabi Muhammad Saat Kurban 
Saudaraku, seperti lazim dilakukan dalam ketaatan berislam, maka sebagai rasa syukur atas karunia Allah, orang-orang yang beriman terus istikamah menegakkan shalat termasuk shalat Idul Adha lalu berkurban. Di sela-sela ibadah ini, hati, akal dan lisan orang-orang beriman selalu "basah" dengan dzkir dan takbir, bersyukur dan mengagungkan Allah ta'ala. Allahu akbar, allahu akbar, laa ilaha ilallah huwallahu akbar, Allahu akbar walillahilhamdu.

Ibrahim dan keluarganya telah memberikan suri teladan bagaimana cara bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang tak terkira. Dan praktik baik terutama shalat dan berkurban menjadi inti ibadah dalam agama monotheisme sejak awal mula. Makanya wajar, bila kemudian ajaran shalat dan berkurban juga menjadi ajaran yang diwarisi dan dilestarikan dalam Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Dalam hal berkurban terdapat riwayat bahwa

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عِيدٍ بِكَبْشَيْنِ فَقَالَ حِينَ وَجَّهَهُمَا إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ عَنْ مُحَمَّدٍ وَأُمَّتِهِ. رواه أبن ماجه

Dari Jabir bin Abdullah dia berkata, “Rasulullah saw menyembelih dua ekor kambing kurban pada waktu Idul Kurban. Saat menghadapkan keduanya beliau mengucapkan: ‘Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). Ya Allah (ini adalah) dari-Mu dan untuk-Mu, dari Muhammad dan umatnya.’. (Hr. Ibnu Majah)

Berdasarkan normativitas di atas dipahami bahwa berkurban merupakan refleksi atas kepasrahan total pada Allah ta'ala. Simbolisasi penyembelihan binatang kurban sejatinya ingin mengajarkan bahwa jalan untuk mendekati dan menuju Allah itu di antaranya bisa dilakukan dengan mendekati sesama. Inilah mengapa kurban sejatinya bukti ketakwaan seseorang yang kebermaknaannya bisa dirasakan oleh seluas-luasnya kehidupan di dunia.

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat. (Qs. Al-Hajj 36-38)

Bayangkan saja secara historis ajaran berkurban telah mewarnai sejarah kemanusiaan sejak mula sekali. Inilah mengapa ajaran berkurban menjadi ajaran universal, melintas batas masa, tempat dan peruntukannya. Allahu a'lam