Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keberkahan Gladi Keikhlasan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 27 Syakban 1443

Keberkahan Gladi Keikhlasan
Saudaraku, setelah melakukan gladi atas kesiapan beberapa aktivitas dan ibadah dalam rangka menyongsong bulan Ramadhan mulia, maka sejatinya ruh dari semua itu ikhlas. Bila tidak ikhlas, maka sia-sia belaka. Mengapa? Ya, itu tadi tidak ada ruhnya. Amal yang tidak memiliki ruh, bukankah mati, bukankah tidak hidup, apalagi menghidupi?

Nah! inilah pentingnya "meniupkan ruh" pada setiap amal yang kita lakukan. Dan inilah sekaligus yang menjadi latar muhasabah hari ini sehingga diracik di bawah judul keberkahan gladi keikhlasan. Keikhlasan itu sangat penting. Tetapi karena keikhlasan merupakan perbuatan hati, maka gladi tentang keikhlasan sejatinya juga menjadi ranah privasi. Artinya hanya diri sendiri saja yang mengetahui kadar keikhlasannya.

Dalam hal ini loentuan teringat pada nasihat Ali bin Abu Thalib yang pernah diulas dalam forum muhasabah ini, dimana sang khalifah Islam ke-4 menasihati kira-kira berbunyi, sebagian orang melakukan ibadah pada Allah ada yang karena takut hukuman; ini tipe ibadahnya hamba sahaya (budak). Sebagian orang beribadah pada Allah ada yang karena semata-mata mengharap imbalan; ini tipe ibadahnya pedagang. Sebagian orang beribadah kepada Allah ada yang karena bersyukur pada Allah; ini tipe ibadahnya orang merdeka.

Tingkatan ikhlas dalam ibadah dan sikap religiusitas kita sejauh ini sudah termasuk tipe yang mana di antara tiga di atas? biarlah menjadi ranah muhasabah atau kalkulasi internal masing-masing diri kita saja. Semoga kita semua tetap bersemangat berfastabiqul khairat, berpacu dalam kebaikan, meningkatkan keikhlasan. Model ibadah yang dilakukan oleh orang beriman di atas menggambarkan tingkat keikhlasan. Dengan demikian ada tingkat keikhlasan tipe budak, tipe pedagang, dan tipe orang merdeka.

Pertama, tingkat keikhlasan budak. Keikhlasan bekerja seorang budak pada tuannya berada pada titik nadir alias nol karena ketakutan saja atau bahkan karena terpaksa atau dipaksa menjadi budak. Secara normal, siapapun manusia di dunia ini tidak mau menjadi budak, kecuali terpaksa atau dipaksa karena kalah perang atau dijualbelikan. Jadi mengerjakan atau meninggalkan sesuatu urusan karena takut sehingga terpaksa atau dipaksa oleh tuannya atau dipaksa oleh statusnya sendiri sebagai budak. Begitulah gambaran tingkat keikhlasan budak, orang yang berat hati saat mau bangun tidur, wudhuk, shalat, puasa, membayar zakat atau naik haji dan seterusnya. Semua ibadah serasa berat memberatkan sehingga terpaksa atau harus dipaksa dilakukan.

Kedua, tingkat keikhlasan pedagang. Keikhlasan pedagang dalam bekerja atau berbisnis lazimnya didasarkan atas motif imbalan atau keuntungan atau laba dari jerih payah perniagaannya. Siapapun yang namanya pedagang yang berniaga apa saja pasti melakukannya demi keuntungan dan menghindari kerugian. Nah orang-orang yang bekerja berharap imbalan atau keuntungan atau laba, sejatinya ya pedagang. Begitulah orang-orang yang beribadah pada Allah seperti shalat, puasa, zakat, haji, umrah, berqurban, dzikir dan ibadah lainnya, semuanya dilakukan dengan berharap keuntungan masuk surga dan menghindari kerugian masuk neraka.

Ketiga, tingkat keikhlasan orang merdeka. Keikhlasan orang-orang merdeka dalam bekerja didasarkan pada cinta dan rasa terima kasih atau rasa syukurnya. Begitulah ibadahnya orang-orang yang merdeka, karena cintanya berterima kasih atau bersyukur kepada Allah, Rabb yang telah menghidupkan, mengutus Nabi Muhammad saw, menurunkan Al-Qur’an, mengaruniai hidayah iman wal Islam, melimpahkan rezeki kepada hamba-hambaNya. Bersyukur kepada Allah mewujud dalam seluruh ibadah, baik yang mahdhah maupun yang ghairu mahdhah seraya meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah.
Tingkat keikhlasan seperti gambaran di atas bisa terjadi pada diri sendiri, juga pada orang yang berbeda.

Tingkat keikhlasan yang dialami oleh seorang hamba berlangsung dinamis, kadang mencapai tingkat keikhlasan seorang yang merdeka, kadang mencapai tingkat keikhlasan seorang pedagang, kadang mencapai tingkat keikhlasan seorang budak. Atau dalam amalan tertentu yang dilakukannya juga variatif tingkat keikhlasannya. Sedangkan tingkat keikhlasan orang yang satu dengan orang lainnya tentu juga bisa berbeda-beda. Di sinilah dinamika ikhlas, baik secara internal maupun eksternal.

Nah, kira-kira tingkat keikhlasan diri kita dalam beribadah selama ini sudah berada di tipe apa dan atau dinamikanya seperti apa? Atau bagaimana tingkat ikhlas shalat, puasa, zakat, sedekah, tilawah, haji, umrah yang sudah dilakukan atau amaliah kita selama ini? 

Ya benar, hanya masing-masing diri kita saja yang bisa merasa dan menjawabnya. Makanya tidak etis menakar tingkat keikhlasan orang lain dan sesamanya. Semoga kita mampu meniupkan ruh ikhlas dalam setiap aktivitas yang kita lakukan. Aamiin ya Mujibassailin