Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keberkahan Gladi Kesehatan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 7 Syakban 1443

Keberkahan Gladi Kesehatan
Saudaraku, gladi untuk memastikan kesiapan kesehatan sejatinya harus terus dilakukan secara istikamah kapan saja dan di mana saja, termasuk sekarang ini di bulan Syakban ini guna memastikan pada bulan Ramadhan dan upaya pemberdayaannya dapat berjalan secara maksimal. Mengapa? 

Ya, di antaranya karena  kesehatan menjadi aspek sangat penting dan mendasar bagi penunaian dan kesempurnaan seluruh ibadah, termasuk puasa. Bahkan dispensasi dan pengecualian juga lazim diberikan bagi orang yang kesehatannya bermasalah, misalnya keizinan qadha atau fidyah.

Betapa tidak! Dalam konteks ini masing-masing diri kita lazim mengalaminya secara praktis. Di saat aspek kesehatan bermasalah, maka seluruh aktivitas dalam hidup ini juga bermasalah. Secara umum, jangankan berpuasa yang daya tahan fisiknya diuji, kaifiyatnya musti menahan diri dari makan minum seharian, atau berhaji yang rangkaian prosedurnya menghajatkan kondisi kesehatan yang prima, untuk shalat saja sebagai kewajiban harian orang Islam,  sudah sulit sekali meraih derajat khusyuk karenanya. 

Saat sakit gigi, misalnya, kitapun seting mengaduh merintih mengerang kesakitan. Dalam kondisi seperti ini, bagaimana bisa khusyuk dalam shalat yang kita kerjakan? Padahal itu baru sebiji gigi yang berlubang. Coba bayangkan kalau ia mengajak memengaruhi yang di samping kiri/ kanannya atau yang berada di atas/bawahnya. Dan ini baru gigi saja ya, belum organ tubuh lainnya. Waduh! Tobat dibuatnya. Kita, tuan puan pasti tidak bersedia lagi, meski ada bonusnya sekalipun.  

Agar shalat khusuk dapat diraih, aktivitas bulan puasa dapat diberdayakan, maka memastikan kesehatannya menjadi niscaya. Begitu juga aktivitas lainnya. Atas izin Allah, dengan nikmat sehat, kita dapat menyelesaikan tugas atas amanah kehidupan yang kita emban.

Mengingat hal ikhwal menjaga kesehatan, maka gladi kesiapannya menjadi sangat signifikan dan semoga menjadi alarm kehidupan kita bersama. Tentu, dalam konteks ini ikhtiar preventif menjadi prioritas. Sehingga kita paham mengapa Nabi Muhammad saw sudah memuasainya sejak bulan Syakban ini. Jadi di antara ikhtiar preventif dalam menjaga kesehatan adalah berpuasa. 

Aisyah ra, ummul mukminin mengisahkan aktivitas Rasulullah saw selama bulan Syaban:

لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ “

Belum pernah Nabi saw berpuasa satu bulan yang lebih banyak dari pada puasa bulan Syaban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” (HR  Al Bukhari dan Muslim)

Mengapa berpuasa Syakban atau bahkan bulan-bulan lain sebelumnya, setidaknya tiga hari sunah ayyamul bidh itu penting? Ya, tentu, karena di antaranya berpuasa itu mengajarkan keseimbangkan dan mengajarkan keteraturan pola makan, kesederhanaannya, kedisiplinan pola hidup dan aktivitasnya, sehingga kebermanfaatannya bagi kesehatan dapat dirasakan.

Melalui pola makan dan pola hidup yang islami kita menjemput karunia Ilahi, sejak hidup di dunia ini. Di antaranya adalah nikmat kesehatan yang prima. Atas perkenan Allah, dengan kesehatan yang prima ini, kita mampu mengerjakan semua kewajiban dan amanah kehidupan, baik secara vertikal maupun horisontal. Aamiin ya Rabb