Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lahirnya Kedamaian

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 13 Rabiul Awwal 1443

Lahirnya Kedamaian
Saudaraku, di samping keteladanan dan kemurnian akidah sebagaimana telah diingatkan dalam muhasabah yang lalu, maka kelahiran Nabi Muhammad saw juga membawa pesan kedamaian yang sangat kuat. Ya kedaimaian dalam naungan dan keridhaan Allah, Rabbuna dengan merengkuh Islam. Makanya Islam itu sendiri juga dimaknai damai. Inilah yang melatari muhasabah sehingga diracik di bawah judul lahirnya kedamaian. 

Kedamaian menjadi di antara hajat manusia yang hakiki. Kedamaian yang dirasakan di hatinya karena hati, karena niat, getaran hati, pikiran dan perilaku praktisnya berada dalam koridor yang Allah gariskan. Kedamaian yang kemudian mewujud dalam perilaku konkret sehari-hari. Kira-kira kedamaian srperti yang pernah dinikmati oleh moyang kita yakni Adam.Hawa saat menempati surga yang damai sejahtera. Oleh karenanya, melalui Islam, Nabi mengajak kita semua untuk meraih hidup damai sejahtera dunia akhirat. Inikah mengapa, kitapun kemudian berazam bercita-cita meraih hidup damai sejahtera sejak sekarang di dunia ini, dan semoga kekal abadi sampai disempurnakan kedamaian dan kesejahteraannya oleh Allah di surgaNya saat kembali di akhirat nanti.

Secara internal kedirian manusia, kedamaian dipahami sebagai suasana batin atau kondisi psikologis tenang, nyaman dan sejahtera yang menyembul dari perilaku keseharian yang bersahaja, damai gemar mendamaikan, aman suka memberi rasa aman dan selamat menyelamatkan siapapun, kapanpun, di manapun dan dengan cara bagaimanapun juga.

Secara eksternal, kedamaian mewujud pada hal-hal yang bersifat fisik alamiah digambarkan dalam suasananya alam yang tenang, aman, nyaman, sunyi, heigenis, dan damai yang memungkinkan semua orang bisa santai, rileks, slow, dapat menghilangkan rasa penat dari kesibukan dan rutinitas duniawi selama ini. Di samping itu, kedamaian juga merefleksi pada kehidupan sosial kemasyarakatan yang aman nyaman dan sejahtera, jauh dari gesekan gosokan, konflik dan kerusuhan, apalagi perang.

Mengapa semua manusia menghajadkan rasa damai, baik damai di hati maupun damai di kehidupan alamiah hari-hari. Di antaranya karena kita dititipi potensi oleh Allah untuk damai mendamaikan, untuk selamat juga mrnyelamatkan, untuk sejahtera mensejahterakan. 

Saking pentingnya rasa damai bagi kehidupan manusia, salah satu admaul husnaNya Allah adalah al-Salam (Damai Sejahera) dimana kita bisa berdoa dengannya.

Allah sebagai al-Salam dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Damai, Maha Sejahtera, Allah maha berkuasa mencurahkan rahmat, keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan kepada semua makhlukNya, apalagi kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih.
Allah mengukuhkan asmaNya al-Salam dalam Al-Qur'an, di antaranya, Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja yang Menguasai, Yang Maha Suci, Yang Maha Damai Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (Qs. Al-Hasyr 23)

Kata al-Salam berasal dari asal kata salama gabungan huruf sin lam mim yang seakar dengan Islam sebagai agama yang memiliki karakteristik damai mendamaikan, sejahtera mensejahterakan, dan selamat menyelamatkan. Inilah di antara kharakteristik ini Islam. Makanya kita sebagai umat Islam juga dituntut dituntun tampil sebagai penyemai dan penyebar kedamaian, penebar kesejahteraan, dan pendorong keselamatan hidup dan kehidupan seluas-luasnya.

Nah langkah konkret dan praktisnya, kita meladani Nabi dan mewujudkan kedamaian hidup. Makanya kita selalu diingatkan saat bertemu dan ketika membuka membicaraan dengan sesama saudara, agar kita mengucapkan salam, dengan lafald assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Semoga keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan melingkupi atas anda semua dan rahmat Allah, serta keberkahanNya terlimpah ruah kepada anda semua.

Bila terpaksa menyaksikan adanya suasana panas dalam kehidupan sosial kemasyarakatan di sekitar kita, maka kita bawakan air yang cukup agar dingin mendinginkan, pantang membawa bahan bakar apalagi menyulutnya karena akan menjadi api yang bisa-bisa tak akan terkendalikan lagi.

Bila ada orang yang menderita atau ada peristiwa yang memilukan, maka kita bawakan sebongkah mutiara harapan karena akan sedikit menghiburnya untuk bersemangat kembali menjalani hidup ini sampai meraih ridha Ilahi. Dan jangan malah tersenyum di atas derita saudara.
Bila tersingkap kejelekan orang lain atau ada gosip murahan atau malah ada ujaran kebencian, maka kita segera berlindung pada Allah setelah berusaha mencegah tersiarnya ke pihak yang lebih luas, agar Allah menutupi kekurangan dan menghapus segala dosa kita.

Sebagai orang Islam tertu harus terus damai mendamaikan, selamat menyelamatkan, sejahtera mensejahterakan diri, keluarga dan siapa saja, di mana saja, kapan saja, dan bagaimanapun keadaannya. Ketika ini telah mewujud dalam kehidupan sehari-hari, maka sudah selayaknya kita mensyukurinya, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata. Pertama, mensyukuri dengan hati yakni meyakini sepenuhnya bahwa Allah adalah zat yang maha damai mendamaikan, termasuk kepada hamba-hambaNya. Allah adalah zat yang selamat menyelamatkan hamba-hambaNya, sejahtera mensejahterakan hamba-hambaNya, apalagi untuk hamba-hambaNya yang istikamah dalam ketaatan kepadaNya.Kedua, mensyukuri dengan lisan seraya terus memujiNya, memperbanyak melafalkan alhamdulillahi rabbil'alamin, Allah telah mensejahterakan, menyelamatkan, dan menganugrahi kedamaian hidup kepada kita. Ketiga, mensyukuri dengan tindakan nyata yaitu meneladani dan mengukuhkan sifat al-Salam dalam kehidupan sehari-hari.
Bila Allah adalah Zat Yang Maha Damai Mendamaikan, maka kita sebagai orang Islam apalagi beriman harus hidup dengan berusaha memperoleh kedamaian dan menebarkan kedamaian kepada sebanyak-banyak pihak dalam kehidupan ini.

Bila Allah adalah Zat Yang Maha Sejahters Mensejahterakan, maka kita sebagai orang Islam sesuai dengan makna agama yang dianutnya harus dapat meraih hidup sejahtera dan berusaha mensejahterakan diri, keluarga dan sesamanya.

Bila Allah adalah Zat Yang Maha Selamat Menyelamatkan, maka sebagai orang beriman, kita harus berusaha meraih dan merasakan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Di samping itu juga harus terus menerus berusaha menyelamatkan diri, keluarga dan sesamanya dari ragam mara bahaya baik di dunia maupun untuk kepentingan di akhirat kelak.

Kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan di dunia ini mewujud dengan diperolehnya karunia dari Allah berupa sehat wal afiat, keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, rezeki harta yang berkah, anak cucu yang shalih dan shalihah, serta di akhir hayatnya mampu melafalkan kalimat thayibah, laailaha illallah muhammad rasulillah.

Kedamaian, kesejahteraan dan keselamatan di akhirat kelak adalah kita dianugrahiNya karunia berupa kefasihan menjawab pertanyaan Malaikat Munkar Nakir di alam barzah, beratnya timbangan kebaikan saat di mizan, atau bahkan tanpa dihisab karena kebaikannya, kelancaran melintasi jembatan sirathal mustaqim, dibukanya pintu surga, dan dianugrahi dapat bersua apalagi dapat melihat Allah swt.

Kini, langkah konkretnya mari segera bangun tidur untuk menjemput karunia Allah ta'ala. Pastikan segera ambil air sembahyang; shalat malam, dzikir, tilawah Qur'an,  bermunajat kepada Allah memohon ampunan dan berharap agar Allah memberi hidayah dan kekuatan kepada kita untuk dapat meneladani Baginda Nabi Yang Mulia, sehingga kita dapat merasakan damai sejahtera baik di dunia maupun di akhirat.. Aamiin ya Rabb.