Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pesan Hijrah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 1 Muharam 1443

Pesan Hijrah
Saudaraku, mengawali muhasabah di tahun baru 1443 pada bulan Muharam ini izinkan untuk mengingatkan kembali bahwa monentum inilah saatnya hijrah. Bila secara makaniyah hijrah dari Makkah ke Yastrib  pada tahun 622 M yang lalu lebih bersifat lahiriyah dan bisa jadi temporal, maka secara maknawiyah sejatinya Nabi memberikan pesan keteladanan dalam "merubah nasib"  dan memperbaiki kondisi ke arah yang lebih baik. Inilah hijrah subtantif yang tuntutannya bersifat universal. Oleh karena itu, dalam rangka memetik hikmahnya, maka kini menjadi saat yang krusial untuk hijrah substantif.

Hijrah substantif dimulai dari perubahan niat, lalu pola pikir, sifat, sikap, dan perilaku dari baseline hari ini kepada niat yang lebih lurus ikhlas, pola pikir yang lebih logis cemerlang, sifat dan sikap yang lebih produktif, dan perilaku yang lebih shalih, sehingga terjadi perubahan nasib dan kondisi menjadi lebih baik dan lebih bahagia. Dalam hal ini Allah jauh-jauh hari telah mewanti-wanti hamba-hambaNya dalam al-Qur'an bahwa perubahan nasib harus dimulai dari diri sendiri (ibda' binafsika).

Allah berfirman yang artinya "Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Qs. Al-Ra'du 11)

Coba bayangkan, betapa beruntungnya manusia bahwa oleh Allah pada setiap diri dikirim "Malaikat Hafizah" secara bergiliran untuk mendampingi, untuk selalu setia menjaga dan memberikan ilham kebaikan yang dibawa dari Rabbnya. Termasuk, tentu saja, ilham untuk melakukan perbaikan internal, ilham untuk berbuat baik, dan ilham untuk merubah nasib. Di sinilah, letak pentingnya menjemput karuniaNya. 

Persoalannya, tinggal kesiapan diri untuk berubah dalam menjemput berkah yang harus dikukuhkan secara nyata. Bila tidak dari diri sendiri, rasanya dari orang lain kok absurd. Mengapa? Iya, karena orang lain juga memiliki agenda hijrah sendiri. Oleh karena itu berharap terjadi perubahan nasib diri kita atas bantuan orang lain tidak boleh menjadi yang utama. Hijrah atau perubahan nasib mestinya dimulai dari diri sendiri. 

Meski telah berada di "zona aman" sekalipun, akan tetapi agenda hijrah tetap saja penting. Apalagi yang kini masih berada di dalam "zona tidak aman". Bila tidak hijrah, maka akan tetap seperti biasa. Tetapi bila melakukan hijrah, maka setidaknya akan berubah ke arah yang lebih berkah bila tidak menjadi luar biasa. Inilah saatnya hohrah. Allahu a'lam