Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pesan Ikhtiar

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 3 Muharam 1443

Pesan Ikhtiar 
Saudaraku, dipahami secara lahiriyah maupun maknawiyah, hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah al-Mukaramah ke Madinah al-Munawarah sejatinya juga mengajarkan ikhtiar. Dan ternyata ini bukan satu-satunya, karena secara historis, hijrahnya Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi merupakan hijrah yang kesekian kalinya setelah sebelumnya pernah hijrah ke Habasah Ethiopia dua kali  - meski Nabi tidak turut - dan Negeri Thaif sekali. 

Bila dihitung dari jumlah, ternyata hijrah yang keempat baru menuai sukses yang luar biasa, sementara yang pertama dan kedua ke Habasah atau ketiga ke Thaif tidak. Bila dicermati dari tempat tujuan, ternyata hijrah yang ke Madinah (Yatsrib) baru menuai sukses yang luar biasa, sementara yang ke Habasah dan ke Thaif tidak. Bila diperhatikan dari keikutsertaan Nabi, maka hijrah ke Habasah tidak dipimpin oleh Nabi sendiri, seperti halnya hijrah ke Thaif. Dan hijrah ke Madinahp dilakukan dengan bergelombang, sementara Nabi bersama Abubakar menyusul setelah menyelesaikan semua urusan muamalahnya di Makkah. Semua ini tentu mengandung hikmah dan ibrah yang luar biasa. 

Dan tentu saja, kesuksesan hijrah ke Madinah dapat dilihat dari faktor eksternal dan internal. Secara eksternal, di samping atas kehendak dan hidayah Allah, Nabi juga telah "mengkodisikan" penduduk Yatsrib melalui beberapa kesepakatan saat berziarah ke Makkah.  Dan secara internal di antaranya hijrah ke Madinah dilakukan dengan niat mantap, modal kuat, dan perencanaan yang sangat matang dengan memperhatikan segala resikonya.

Pertama, Tahap Perencanaan. Pada tahap perencanaan ini, setelah menerima titah Allah, maka secara manusiawi Nabi Muhammad saw kemudian menyusun rencana dan mengurus segala sesuatunya dengan seksama dan matang. Nabi menyelesaikan segala sesuatu yang terkait muamalah duniawiyah seperti mengembalikan barang atau uang yang dititipkan kepadanya selama ini kepada para empunya, Nabi telah mempersiapkan unta pilihan sebagai alat transportasi yang akan mengantarkannya hingga Madinah. Malah sedianya unta itu akan dihadiahkan oleh pemiliknya karena untuk membantu perjuangan Nabi, tetapi Nabi menolak dan membayarnya dengan harga yang pantas. Nabi ingin mengajarkan kepada sang pemilik unta (yaitu sahabat setianya Abubakar Siddiq) dan umatnya bahwa untuk sebuah cita-cita peradaban besar diperlukan modal dan pengorbanan.

Di samping itu, Nabi membagi pekerjaan (job description) dengan menempatkan beberapa sahabat sesuai dengan kesanggupannya secara proporsional. Ada yang bertugas mensuplay logistik seperti yang diemban oleh Asma, ada yang bertugas mensterilkan lintasan setelah diliwati Nabi guna menghapus jejak-jejaknya seperti Fuhairah dll. Nabi juga meminta Ali bin Abu Thalib untuk tidur di tempat yang selama ini menjadi tempatnya beristirahat di malam hari, sebuah resiko yang sangat riskan di bawah ancaman bunuh dari orang kafir quraisy.  Nabi juga menunaikan amanah lain yang harus diselesaikan di Makah.

Tahap Pelaksanaan. Setelah menyelesaikan segala urusannya di Makkah sebagai bagian dari perencanaan, maka tibalah saatnya, hijrahpun mulai diperankan. Kali ini setelah meninggalkan kediamannya di malam hari yang buta, Nabi Muhammad saw ditemani oleh sahabat setianya Abubakar Siddiq berangkat ke Madinah. 

Tedapat hal tidak lazim saat menempuh perjalanannya menuju Madinah kali ini, Nabi Muhammad saw dan Abubakar mengambil jalur baru sama sekali yang selama ini tidak biasa dilalui oleh para kafilah dagang atau rombongan peziarah lainnya. Hal ini dilakukan bukan saja sebagai resiko dan tantangan perjuangan, tetapi strategi demi keamanan karena seantero negeri sejak kediamaannya di Makah dan seluruh jalur yang lazim mengarah ke Madinah sudah dalam pengawasan ketat bahkan ancaman dari tokoh-tokoh kafir quraisy.

Sebagaimana job description rapi yang telah dibuat oleh Nabi, maka para sahabat samikna wa athakna, mendengar taat dan patuh, telah menunaikan amanah sesuai peran, tugas dan fungsi sesuai peruntukannya masing-masing. Asma, seorang sahabat yang bertugas di bidang logistik juga mengerti apa yang harus dilakukannya. Di pagi harinya Fuhairah segera mengembalakan domba-dombanya di sepanjang lintasan yang dilalui Nabi Muhammad dan Abubakar malam harinya, agar tidak tampak jejak-jejak kaki atau pertanda telah diliwati.

Selama dalam perjalanannya, Nabi begitu tawakal pada Allah. Dalam seluruh rangkaian aktivitas sejak dari sesi niat atau perencanaan, hingga pelaksanaan sejatinya telah diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Sehingga ketika terjadi ketentuan apapun atas usaha maksimal hamba tentu menjadi bagian dari pengabdiaannya pada Allah. Inilah indahnya tawakal.

Simaklah apa yang terjadi pada diri Nabi Muhammad saw saat semua kemampuan telah dikerahkan sehingga hijrah terlaksana dengan baik meski juga terdapat dinamika dalam prosesnya. Adalah Suraqah bin Malik, setelah mengetahui kabar bahwa Nabi telah meninggalkan Makah, dan orang kafir quraisy mengeluarkan sayembara dengan menyiapkan hadiah 100 ekor unta bagi sesiapa yang dapat menangkap hidup atau mati Nabi Muhammad, kemudian bergegas mengejar Nabi yang kala itu ditemani Abubakar Al-Siddiq. 

Ketika berhasil mencapai tempat yang memungkinkannya untuk mendengar doa Nabi Muhammad, kuda yang dikendarai Suraqah terperangkap tak bisa bergerak. Suraqah pun dimaafkannya, lalu melanjutkan perjuangan. Perjalanan hijrahpun diteruskan hingga meraih tujuannya. Jadi, tawakal bukanlah pertanda kelemahan tetapi justru menumbuhkan kekuatan, tawakal bukanlah sikap pasrah yang salah kaprah tetapi sikap pasrah atas segala ikhtiar yang telah dilakukan sebelumnya.

Ketiga, tahap meraih hasil sebagai capaian hijrah. Sesampainya di Yatsrib, Nabi Muhammad saw kemudian melakukan banyak langkah penting guna memulai titik balik kemajuan Islam sebagai agama peradaban. Di antara langkah penting yang dilakukan Nabi adalah membangun masjid, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah, dan membuat kesepakatan sosial-politik dengan suku-suku Yahudi dan penduduk di sekitarnya. Intinya, dengan hijrah, Nabi Muhammad nantinya kemudian berhasil membangun masyarakat Madinah yang berciri egaliterianisme, penghargaan berdasarkan prestasi bukan prestise, keterbukaan partisipasi seluruh warga bangsa, dan penentuan kepemimpinan melalui pemilihan, bukan berdasarkan keturunan. Inilah di antara capaian hijrah, selain bisa melahirkan peradaban yang gemilang, agamanya dipeluk oleh berjuta-juta kaum muslim dari generasi ke generasi berikutnya hingga kini.

Dengan demikian hijrah sejatinya merupakan ikhtiar hamba dalam menjemput karunia Allah ta'ala. Allahu a'lam