Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pesan Pengorbanan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 4 Muharam 1443

Pesan Pengorbanan
Saudaraku, pesan pengorbanan ini terindikasi sangat kuat pada peristiwa hijrah. Oleh karenanya, dipahami secara lahiriyah maupun maknawiyah, hijrahnya Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya dari Makkah al-Mukaramah ke Madinah al-Munawarah sejatinya mengajarkan pengorbanan. 

Ya, inilah hijrah, yang demi mempertahankan akidah, tersiarnya Islam secara sempurna dan hidup dalam keberislaman secara bermartabat, Nabi dan para sahabat mulia telah mempersembahkan ajaran berkorban baik waktu, tenaga, pikiran, harta, keluarga maupun bahkan jiwa sekalipun.  Jadi untuk Allah (baca agama Allah) dan rasulNya segalanya harus dicurahkan, sehingga menjadi bermakna.

Saat hijrah, Nabi dan para sahabat mulia meninggalkan kampung halaman dimana mereka dilahirkan. Dan ini rasanya bersifat universal bahwa di "negeri orang" melahirkan ghirah dan gairah berjuang lebih maksimal. Bahkan karena sesuatu dan lain hal, tidak sedikit dari mereka yang harus berpisah dengan keluarga atau saudaranya. Perngorbanan Nabi dan para sahabat juga pada harta dan usaha yang dimiliki di Makkah, di samping tenaga dan pikiran yang luar biasa dikerahkan saat mencari cara dan jalan agar selamat menuju Madinah dan selamat dari cegatan kaum kafir quraisy yang siap menghabisi nyawa mereka.

Sebagai contoh, lihatlah betapa besar pengorbanan Ali bin Abu Thalib yang siap menjadi tumbal keganasan para algojo perwakilan kabilah dari orang-orang kafir quraisy yang bersiap menghabisi nyawanya, dimana di malam keberangkatan hijrah Nabi, bersedia menerima amanah dengan tidur di tempat yang biasa Nabi beristirahat, sehingga dikiranya Nabi masih tidur hingga pagi. 

Betapa besar pengorbanan Abubakar al-Shiddiq yang bersedia dengan senang hati menemani perjalanan hijrah Nabi padahal bahaya besar dari ancaman orang-orang kafir quraisy selalu mengintai keselamatan nyawanya. Dalam keheningan malam, dengan takdir Allah, kedua manusia agung ini menyelinap berhasil keluar dari kediamannya, lalu dengan untanya menyusuri jalan dan rute yang tidak lazim meinggalkan tanah tumpah darahnya menyusul rombongan kaum muhajirin yang sudah berangkat terlebih dahulu menuju Madinah.

Betapa besar pengorbanan Asma yang mengemban tugas mensuplay logistik Nabi saat dalam perjalanan atau persembunyian di Gua Tsur. Tentu, mara bahaya selalu mengintainya di samping harus ekstra hati-hati agar misinya selamat. Karena kecerobohan sedikit saja sudah bisa memberikan sinyal bagi orang-orang kafir untuk mengetahui keberadaan Nabi yang sedang dicari untuk dihabisi.

Betapa besarnya pengorbanan Fuhairah yang bertugas mensterilkan lintasan setelah diliwati Nabi dan Abubakar. Di samping memerah susu dari gembalaannya dan mensuplay kepada Nabi, Fuhairah juga dengan segera mengembalakan domba-dombanya di sepanjang lintasan yang dilalui Nabi Muhammad dan Abubakar di malam harinya, agar tidak tampak jejak-jejak kaki atau pertanda telah diliwati.

Dan hampir seluruh peserta hijrah yang kemudian dikenal dengan kaum muhajirin memiliki pengalaman atas pengorbanan yang berbeda-beda demi satu tujuan bersama yakni  mempertahankan akidah, menyiarnya Islam secara sempurna dan menjalani hidup dalam keberislaman secara bermartabat. 

Nah, apa ibrahnya bagi kita? Ya, di antaranya adalah sebuah cita-cita besar dan agenda pencapaiannya seperti halnya hijrah, meniscayakan iman, dan iman meniscayakan pengorbanan. Dengan demikian hijrah adalah pengorbanan. Allahu a'lam