Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pesan Peradaban

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 2 Muharam 1443

Pesan Peradaban
Saudaraku, hijrah dari Makkah ke Madinah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabat sekitar 1500 tahun yang lalu sejatinya membawa pesan peradaban yang adi luhung  Bila hijrah dinilai sebagai proses atau usaha yang dilakukan untuk memperbaiki kondisi, nasib, niat, pola pikir, pola sikap, dan perilaku, maka pesan peradabannya dinilai sebagai natijah atau hasilnya. Oleh karenanya, hijrah merupakan keniscayaan peradaban.

Nah, bukan tanpa alasan sehingga Umar bin Khattab mengusulkan penetapan penanggalan hijriah didasarkan pada peristiwa hijrahnya Nabi dan para sahabat dari Makkah ke Yastrib (nantinya menjadi Madinah). Karena ternyata, hijrah ini benar-benar menjadi kilas balik peradaban Islam menjadi gilang-gemilang. Nanti jauh setelah masa Khulafa' al-Rasyidun, Ali Syari’ati juga menegaskan bahwa di balik seluruh peradaban besar yang dikenali manusia tersimpan konsep hijrah yang mendasarinya. Dan ternyata penanggalan hijriyah masih terus dilestarikan sampai sekarang dan digunakan di hampir semua masyarakat muslim dunia saat ini. Bahkan ekspresi dan semangat untuk melakukan perubahan terlihat di mana-mana.

Keluarga besar atau suku bangsa dan kampung halaman yang - kadangkala memanjakan dan meninabobokkan atau sebaliknya - terlalu mengekang seperti yang dialami oleh Nabi Muhammad saw saat di Makkah tanah tumpah darahnya sendiri, sehingga hijrah menjadi tuntutan dan tutunan keniscayaan yang harus dipenuhi. Apalagi di Yastrib sebagai tempat baru - meski leluhur ayahanda juga dimakamkan di Yastrib - relatif menjanjikan adanya suasana baru, semangat juang baru dan peluang-peluang baru. Dari peluang yang tersendia di Yastrib kemudian dapat ditelusuri pesan peradaban Islam yang gemilang.

Di antara pesan peradaban yang nyata tampak jelas adalah pada substansi penggantian nama daerah dari Yatsrib menjadi Madinah Al-Munawarah. Dari nama barunya saja, bermakna Kota Yang Bercahaya, maka dapat dipahami betapa gemerlapannya Madinah di kemudian harinya. Mengapa? Karena Madinah menjadi wilayah yang disinari oleh nur cahaya Ilahi, sarat dengan beragam kemajuan peradaban  telah ditorehkannya. 

Lahirnya masyarakat utama yang orang-orang di dalamnya meskipun heterogen tetapi saling tolong menolong dalam kebaikan, saling menghargai, saling menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, saling menguatkan, lahirnya Piagam Madinah, ketaatan pada kepemimpinan Nabi Muhammad saw yang smart dan al-amin, sampai berdirinya nations state "Negara Kota Madinah" merupakan bukti historis yang mengesankan. Inilah negara utama yang barangkali idenya telah digadang-gadang oleh Plato pada zaman keemasan peradaban Yunani pada tahun jauh sebelum masehi, seribuan tahun sebelum lahirnya Nabi Muhammad saw.

Dicatat dalam sejarah bahwa saat Nabi Muhammad saw wafat tahun 632 M, Jazirah Arabia telah disinari oleh cahaya Islam yang berasal dari Madinah Al-Munawarah. Kemudian pada masa Khulafa' al-Rasyidun, cahaya Islam telah keluar menembus dinding Jazirah Arabia masuk merembes dan membuncah ke berbagai penjuru negeri bahkan melintas benua, baik ke Benua Asia (juga ke Asia Tenggara), Afrika, maupun Eropa. Bahkan pernah eksis tiga kekhalalifahan semasa di tiga benua, yaitu Kekhalifahan Bani Abbas di Arab dan Benua Asia berpusat di Bagdad, Kekhalifahan Bani Umayah di Benua Eropa berpusat di Andalusia, dan Kekhalifahan Bani Fatimiyah di Benua Afrika berpusat di Mesir.

Pesan peradaban pada masing-masing wilayah dan otoritas kekuasaan Islam begitu nyata di berbagai aspek kehidupan manusia. Satu kalimat untuk menggambarkannya yakni mengangkat harkat martabat kemanusiaan di bawah naungan Allah ta'ala. Bidang ilmu pengetahuan, filsafat, logika, pertahanan dan keamanan, kesenian, kaligrafi, kedokteran, ekonomi, astronomi, geografi, sosiologi, pendidikan dan beragam bidang lainnya berkembang sangat pesat sesuai dengan elan vital zamannya, sehingga mewarisi mewariskan ilmuwan-ilmuwan kenamaan dari zaman ke zaman.  Estafet pesan hijrah berada di pundak generasi demi generasi, bahkan hingga kini. Tentu sikap apologis jelas tidak memadahi, tetapi hijrah menjadi solusi. Allahu a.'lam