Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Contoh Teks Khutbah Idul fitri Menyentuh Hati

Contoh Teks Khutbah Idul fitri Menyentuh Hati




SUPLEMEN KUTBAH IDUL FITRI


MEMPERTAHANKAN
KEMENANGAN DENGAN


TERUS MENGIBARKAN BENDERA TAAT


Disampaikan Penulis
pada: 1 Syawal 1431 H/10 September 2010

Di Masjid Agung Al-Munawarrah
Jantho

Kabupaten Aceh Besar


الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله
أكبر الله أكبر الله أكبر


اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ
شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ
وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ
اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا
الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ
وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd


Alhamdulillah, atas rahmat Allah swt yang telah dilimpahkan kepada kita, pada hari ini,
1 Syawal 1431 H kita sampai pada puncak dari seluruh rangkaian ibadah Ramadan,
yaitu Hari Raya ’Id al-Fitri, Hari Raya kemenangan umat Islam di seluruh pelosok dunia. Kemenangan atas musuh-musuh kita, yaitu setan dan hawa nafsu. Atas hidayah
Allah yang tercurah deras dalam hati sanubari kita, perayaan ’Id al-Fitri kali ini dapat kita lakukan dengan khusyu’ dan dengan hati yang bertaubat.
Atas karunia Allah yang melimpah ruah, kita bisa menikmati indahnya beridul
fitri bersama sanak keluarga, saudara, handai taulan, tetangga, teman dan
seluruh kaum muslimin dengan penuh kebersamaan dan suka cita. Untuk itu, puja dan
puji syukur senantiasa kita persembahkan ke hadirat Allah swt, Rabb sekalian
alam.

’Id al-Fitri merupakan hari raya kemenangan karena kita kembali suci.
Inilah hari raya yang resmi diajarkan oleh Islam melalui sunnah Rasulullah saw,
selain Idul Adha. Atas sunnah Rasulullah inilah kita bisa meneladani bagaimana
mensyukuri dan memaknai Idul fitri. Untuk itu, salawat dan salam semoga tetap
tercurah kepada Nabi dan Rasul kita Nabi Muhammad saw, keluarganya,
sahabat-sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang selalu setia dengan
sunnah-sunnahnya.

Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Secara sunatullah, kemenangan tidak datang di awal, tetapi di belakang atau
di akhir, yaitu di ujung sebuah perjuangan. Kemenangan memerlukan proses
perjuangan yang tak jarang berlangsung
amat panjang dan melelahkan. Menurut Sayyid Quthub, untuk menggapai kemenangan
itu diperlukan beberapa tahap, yaitu iman, jihad (kesungguhan), ujian atau
cobaan, kesabaran dan tahan uji, serta mengorientasikan diri menuju Allah sat
semata (al-tawajjuh). Kemudian baru
datang kemenangan, kita merasakan kenikmatan dan kebahagiaan.

Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd


Tahapan-tahapan untuk memperoleh kemenangan itu, telah kita kukuhkan selama
bulan Ramadan yang baru saja berlalu, sehingga hari ini kita tampil sebagai
pemenang sejati, seperti doa kita ja’alna
Allahu minal ‘Aidin wal Faizin wa ma’bulin Amin (Semoga Allah berkenaan
menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kembali suci dan
memperoleh kemenangan sejati serta diterima amal ibadah kita). Ungkapan ini
kemudian sering kita modifikasi menjadi Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir
Batin.

Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Mengapa sesuai mengerjakan ibadah Ramadan dikatakan sebagai hari raya? Di
antaranya disebabkan karena kita telah memperoleh kemenangan. Kemenangan
melawan siapa? Tidak lain melawan musuh-musuh kita, yaitu setan dan terutama
hawa nafsu angkara murka yang berada dalam pribadi kita masing-masing. Itulah
sejatinya hakikat kemenangan. Oleh karena itu Imam Anas bin Malik menyatakan
bahwa selain dua hari raya (‘Id al-Fitri dan ‘Id al-Adha) sejatinya orang-orang
beriman mempunyai lima hari raya lagi, sehingga menjadi tujuh hari raya yaitu:

Pertama, pada setiap hari yang dilalui oleh orang-orang beriman tanpa sedikitpun
melakukan perbuatan yang menimbulkan dosa di hari tersebut. Dengan demikian
sebenarnya orang-orang beriman dapat merasakan dan mengusahakan kemenangan hari
raya pada setiap hari yang dilaluinya, dengan cara mengerjakan segala perintah
Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Nah, bila ini bisa dilakukan, maka
hari-hari itu kita merasakan dan merayakan hari raya.

Kedua, hari raya ‘Id al-Fitri, hari raya setelah kita menuaikan ibadah puasa
Ramadan.

Ketiga, hari raya ‘Id al-Adha, hari raya haji, hari raya ‘Id al-Qurban.

Keempat, pada hari ketika kita meninggal dunia dengan berbekal ketakwaan dan keteguhan iman kepada Allah, seraya
mengakhiri hidup di dunia ini dengan melafalkan kalimat tauhid, laillaha illa Allah. Bila hari-hari
diisi dan diusahakan serta dirasakan sebagai hari raya, hari kemenangan, maka
ketika meninggal dunia pun orang-orang beriman akan secara otomatis merasakan
nikmatnya hari raya.

Kelima, pada hari ketika sukses menjawab pertanyaan malaikat penjaga kubur, dan
sukses melintasi jembatan Siratal Mustakim di akhirat kelak. Menurut informasi
yang kita dengar, jembatan ini sangat
panjang dan maha kecil yang harus dilewati oleh setiap orang karena ia
menghubungkan antara alam kubur dengan surga, akan tetapi di bawahnya terhampar
neraka. Dengan demikian ketika tidak
berhasil melewati jembatan ini alamat neraka bagi dirinya. Ini sekaligus
memberikan makna bahwa untuk meraih kemenangan, kemuliaan dan kebahagiaan hidup
itu, baik di dunia maupun di akhirat
adalah suatu hal yang amat sulit, sesulit melintasi jembatan yang amat kecil
dan panjang, jembatan Sirat al-Mustaqim.
Oleh karenanya harus disusun strategi dan perencanaan serta usaha yang
sungguh-sungguh untuk meraihnya.

Keenam, pada hari ketika kita terhindar dari neraka dan masuk surga. Neraka
adalah dunia konsekuensi sebagai balasan yang sangat menyakitkan, sedangkan
surga adalah dunia konsekuensi sebagai balasan yang sangat membahagiakan, maka
kemenangan besar lah bagi orang-orang yang dapat terhindar dari neraka dan
dapat menikmati surga, kelak.

Ketujuh, pada hari di saat dapat bertemu dan melihat Allah swt secara langsung.
Allah adalah raja di atas segala raja, Tuhan pemberi segala kenikmatan, maka
bertemu dengan Allah merupakan puncak kebahagiaan yang tiada tara.

Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd
Bila kita perhatikan pada ketujuh momen hari raya di atas, maka tiga hari
raya pertama dapat kita rasakan di dunia ini yaitu pada hari dimana kita
terbebas dari perilaku dosa, hari raya ’Id al-Fitri dan hari Raya ‘Id al-Adha. Satu hari raya kita alami pada
masa peralihan antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, yaitu pada hari
akhir hayat kita. Sedangkan tiga hari raya selebihnya kita dialami di akhirat
kelak. Ini kan, sejatinya Islam menekankan keseimbangan; bahagia di dunia dan
bahagia di akhirat.

Sebagai orang beriman kita tentu menyakini bahwa hari raya yang dialami di
akhirat kelak akan lebih sempurna, lebih membahagiakan dan lebih kekal abadi.
Namun secara garis besar pada kesemua momen hari raya tersebut kita sama-sama
memperoleh kemenangan dan merasakan kebahagiaan. Selagi di dunia, kita masih
berkesempatan untuk meraih kesemua momen hari raya, hari kemenangan tersebut.

Bila dihayati maka hari-hari selama bulan Ramadan kemarin, dengan aneka
pemberdayaan di siang (siyamu ramadan) maupun di malam harinya (qiyamu
ramadan), sejatinya merupakan rangkaian dari hari-hari raya bagi
orang-orang beriman yang berpuasa. Karena selama mengerjakan puasa kita selalu
memelihara diri dari perilaku dan apa saja yang dapat menyebabkan batalnya
pahala puasa atau menghindari perilaku yang mengakibatkan dosa. Oleh karena
itu, di saat kita berbuka di sore hari kita merasakan kebahagiaan hari raya
untuk hari itu, karena telah dapat mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan
larangan-Nya. Demikian seterusnya kita senantiasa mengerjakan puasa dan
merayakan hari raya di sore hari selama bulan Ramadan sampai datangnya hari
raya ’Id al-Fitri seperti sekarang ini.

Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Di samping itu, ibadah Ramadan yang kita tunaikan sebulan penuh yang baru
saja berlalu, adalah sarana untuk menemukan kembali jalan menuju fitrah. Pada
siangnya kita berpuasa, di mana pahalanya tidak tergantung seberapa jauh kita
lapar dan dahaga, melainkan tergantung pada apakah kita menjalankan dengan iman
dan ihtisab kepada Allah serta penuh introspeksi ataukah tidak. Pada
malamnya kita dirikan shalatullail/tarawih, agar hati kita senantiasa
terikat dan tunduk kepada Allah pemilik jiwa raga ini. Hari-hari Ramadan pula
kita ramaikan dengan tadarrus al-Qur’an agar kita bisa mengaca diri,
apakah tingkah-laku kita sudah sesuai dengan tuntunan al-Qur’an ataukah belum.
Dan pada akhir Ramadan, kita tutup dan sempurnakan seluruh rangkaian ibadah
puasa dengan zakat fitrah, sebagai ungkapan simbolik kecintaan kita kepada kaum
miskin dan papa.

Kini, di hari raya ini
kita telah tampil sebagai pemenang, kembali kepada jati diri yang fitri.
Selanjutnya aktifitas apa saja yang paling utama dilakukan sekembali kita dari
shalat idul fitri ini? Setelah berpuasa
dengan segenap aktivitas pendukungnya selama sebulan penuh di bulan Ramadan
dengan niat ikhlas hanya memburu ridla Allah Ta’ala, dan kita telah
menyempurnakannya dengan mengeluarkan zakat fitrah, maka dosa-dosa kitapun
diampuni. Namun seperti kita ketahui, dosa yang diampuni itu, adalah dosa yang
berhubungan langsung dengan Allah. Sementara, mungkin masih ada dosa lain yang berkaitan
dengan sesama kita, antar kita, di mana ampunan Allah sangat bergantung pada
pemaafan masing-masing kita.

Oleh karenanya untuk menyempurnakan ketidak berdosaan (kefitrian) kita, setelah shalat `Id al-Fitri ini, kita dituntut untuk senantiasa
menjalin silaturahim, saling kunjung-mengunjungi, berhalal bihalal, kita menghalalkan dan
memaafkan orang lain, orang lain juga menghalalkan dan memaafkan kita. Dengan
demikian pada hari raya ini kali ini, diharapkan semua macam dosa lebur dan
diampuni serta kita kembali sebagaimana fitrah kita, mulus tanpa dosa, yang ada
hanyalah kebaikan, sehingga kita merasakan kebahagiaan.

Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Namun demikian, di sela-sela kita mensyukuri hari
kemenangan seperti hari ini kita harus ingat bahwa sesaat hari raya ’Id al-Fitri ini tiba, maka pimpinan setan berteriak geram seraya mengadakan temu
musyawarah antar sesama setan. Salah seorang setan bertanya “wahai sang kepala,
pimpinan saya siapakah yang menyebabkan anda murka?, maka sungguh dia akan kami
hancurkan”. Pimpinan setan menjawab: “Tidak ada sesuatupun, akan tetapi Allah
pada hari raya ini telah mengampuni seluruh umat Muhammad karena telah menunaikan
ibadah Ramadan. Maka kamu wahai setan sekalian, mulai hari ini kalian harus
bekerja keras kembali; harus dapat menyibukkan manusia dengan aneka kelezatan
yang meninabobokkan, dengan syahwat, dengan minuman yang memabukkan, sehingga
Allah menjadi murka kembali kepada mereka”.

Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Agar kita tetap dalam kefitrian dan tidak mendapat murka Allah, maka kita
harus menjadikan aura Ramadan menghiasi hidup dan kehidupan kita. Kita kibarkan bendera taat selama-lamanya, meski bulan Ramadan telah
berlalu. Dalam hal ini, Allah sudah memperingatkan kita. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan tua yang menguraikan
benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali… QS al-Nahl 92

Kita mungkin sepakat untuk
tidak ingin merusak bangunan yang telah kita tegakkan, kecuali untuk
merenovasinya sehingga lebih sempurna dan bertambah indah. Bangunan ini bisa
bersifat fisik (seperti rumah, istana, jalan atau sehelai kain dan lain
sebaginya) maupun non fisik (seperti akhlak yang terpuji, kebiasaan shalat
malam, tadarrus al-Qur’an, bersedekah dan lain sebaginya).

Sekiranya bulan Ramadan
yang penuh rahmat, maghfirah, itqu
minannar dengan segenap aktifitas ibadah telah kita tegakkan dengan baik,
sehingga dijanjikan ‘ied al-fihtry
(kembali suci) dan memperoleh gelar mutaqqin,
maka kini di bulan Syawal ini kita
memasuki fase penerapan (tathbiq)
dari hasil pendidikan selama sebulan penuh itu. Oleh karena itu melalui kutipan
ayat di atas, Allah mengingatkan kita untuk tidak mengurai kembali jalinan kain
yang telah kita tenun selama Ramadan. Cita-cita minimal, paling tidak kita
harus dapat mempertahankan jalinan ketaatan dan pengabdian kepada Allah yang
telah kita tunjukkan selama Ramadan, bahkan dituntut untuk dapat meningkatkannya
pada masa-masa sesudahnya. Bila ini bisa kita dilakukan berarti bersesuaian
dengan penamaan bulan setelah Ramadan yaitu Syawal yang bermakna peningkatan, musim semi.

Dari segenap kaum muslimin
yang berhasil meraih gelar takwa dan berhari raya idul fitri, berapa orang yang
mampu bertahan dalam bendera ketaatan? Jangan sampai realitas ketaatan selama
ini dan ke depan menunjukkan grafik menurun. Sepinya jamaah di semua tempat
ibadah, tak terdengarnya alunan ayat suci al-Qur’an dan menurunnya semangat bersedekah,
tidak
adanya orang yang menyantuni
si papa mudah-mudah tidak terjadi pasca bulan Ramadan. Inilah, kondisi dambaan
kita, sehingga kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam ketaatan dan
ketakwaan, sehingga benar-benar berhari raya, memperoleh kemenangan sejati.
Berndera ketaatan senantiasa kita kibarkan, meski Ramadan telah berlalu.


Allahu Akbar 2X walillahi al-hamd

Kaum muslimin muslimat jama’ah
‘id al-fitr yang mulia!


Ini barangkali renungan kita di sela-sela merayakan idul fitri sehingga
hari raya ini tetap menjadi lebih bermakna. Maka marilah kita berdo’a kepada
Allah swt semoga Allah memasukkan kita ke dalam hamba-hamba-Nya yang pandai
bersyukur, mentaati perintah-Nya dan menjauhkan kita dari adzab dan siksa-Nya
yang sangat pedih.


Ya
Allah … melalui wahyu-Mu, kami mengetahui bahwa Engkau Maha Pemurah. Melalui
samudra kemurahanMu yang tak bertepi jangan Engkau jadikan Ramadan ini terakhir
bagi kami, sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi hamba-Mu ini untuk mengabdi
kepada Mu pada Ramadan tahun depan. Jangan Engkau jadikan hari ini sebagai
akhir shalat malam kami, akhir puasa
kami, akhir sedekah kami, akhir tadarus Qur’an kami, akhir shalat jama’ah kami
atau akhir amal ibadah kami. Karena tanpa semua ini hamba-Mu hampa.


Ya
Allah … melalui al-Qur’an, hamba-Mu tahu Engkau maha Kuasa dan Perkasa. Dengan
kekuasaan dan keperkasaan-Mu jadikan ibadah Ramadan ini sebagai syahrut tarbiyah
wa syahrut tazkiyah kami, sehingga hamba-Mu bisa tampil sebagai generasi
rabbani yang senantiasa bertaqarrub padaMu.

Ya
Allah … melalui firman-Mu, kami menyadari bahwa Engkau Maha Pengampun dan
Penerima taubat. Melalui keagungan maafMu, ampunilah segala dosa kami, ibu
bapak kami, saudara-saudara seiman kami, sehingga kami termasuk orang-orang
yang kembali bersifat fitri laksana bayi yang dilahirkan tanpa dosa dan
kepura-puraan. Jadikan kami sebagai hamba yang kembali kepada ahsani taqwin,
meski telah lama terjerembab dalam asfalassafilin. Jadikanlah hambamu sebagai
bagian dari orang yang memperoleh kemenangan, bukan atas orang lain atau sesama
kita, tetapi kemenangan atas hawa nafsu kita sendiri. Amin,
ya Allah, Rabb al-‘Alamin!


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ
سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.


Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan
mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya
Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.


رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia,
kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Cot Jambo Blang Bintang Aceh Besar

1 Syawal 1431 H


KUTBAH IDUL FITRI

FITRAH MENJADI PEMENANG DAN UPAYA MEMPERTAHANKANNYA

Disampaikan oleh Penulis
pada: 1 Syawal 1432 H


Di Masjid Peurada Banda
Aceh

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله
أكبر الله أكبر الله أكبر


اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ
وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ:
فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ



Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Alhamdulillah, atas rahmat Allah swt yang
telah dilimpahkan kepada kita, pada hari ini, 1 Syawal 1432 H kita sampai pada
hasil dari seluruh rangkaian ibadah Ramadan, yaitu Hari Raya Idul Fitri, Hari
Raya kemenangan umat Islam di seluruh pelosok bumi. Kemenangan atas musuh-musuh
kita, yaitu setan dan hawa nafsu. Atas hidayah Allah yang tercurah deras dalam
hati sanubari kita, perayaan Idul Fitri kali ini dapat kita lakukan dengan
khusyu’ dan dengan hati yang tawadhu’. Atas karunia Allah yang melimpah ruah,
kita bisa menikmati indahnya beridul fitri bersama keluarga, sanak saudara,
handai taulan, tetangga, teman dan seluruh kaum muslimin dengan penuh
kebersamaan dan suka cita. Untuk itu, puji syukur senantiasa kita persembahkan
ke hadirat Allah swt, Rabb sekalian alam.


Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Idul Fitri merupakan hari raya
kemenangan karena kita kembali suci. Inilah hari raya yang resmi diajarkan oleh
Islam melalui sunnah Rasulullah saw, selain Idul Adha. Atas sunnah Rasulullah
juga kita bisa meneladani bagaimana mensyukuri dan memaknai Idul fitri. Untuk
itu, salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad saw,
keluarga, para sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang setia terhadap
sunnah-sunnahnya.


Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Sejatinya kemenangan itu sendiri
merupakan fitrah kita. Sejak awal penciptaan masing-masing diri kita, dari
sekitar setengah milyar sel spermatozoa kita satu-satunya yang paling sabar,
paling tahu jalan, paling ikhlas, paling bertawakkal, paling bersyukur, paling
mengerti tentang cinta, paling istiqamah, paling tinggi harapannya, sehingga
dapat terus bergerak menuju “ovum” yang tersedia hanya satu-satunya. Jadi kita,
sejak awal adalah sebagai sang pemenang. Satu mengalahkan 500 juta yang lain
yang kurang/tidak berkualitas.

Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Dengan demikian
sejak awal kehidupan di rahim ibu, kita adalah tercipta sebagai pemenang. Di
samping itu di alam zuriyat kitapun bersaksi dan berjanji dengan Allah (dikenal dengan perjanjian
primordial), sebagaimana diinformasikan al-Qur’an, surat al-A’raf 172:

“Dan (ingatlah), ketika
Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah
mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini
Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”.
(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:
“Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini
(keesaan Tuhan)”.

Sayangnya, setelah kita lahir dan hidup di dunia ini,
tidak selamanya kita tetap dalam ikatan perjanjian dengan Allah tersebut. Dalam
banyak hal, karena faktor eksternal, pengaruh lingkungan, pendidikan,
sosiokultural kehidupan, manusia acap kali merusak perjanjian itu atau bahkan
memutuskannya. Inilah yang diprediksi oleh Rasulullah saw melaluli sabdanya: ”Setiap anak dilahirkan
dalam kondisi fitrah, kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi,
Nasrani atau Majusi” (HR. Muslim)

Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Penyelewengan dari fitrah
inilah yang menyebabkan manusia menjadi jauh dari ajaran agama; jauh dari
Allah, karena lebih mengikuti dorongan hawa nafsu dan godaan setan. Manusia
lupa akan jati dirinya, lupa dengan fitrahnya; lalu berperangai atau menjadi Yahudi,
Nasrani atau Majusi. Kita lihat tipe manusia seperti ini di segala lini kehidupan kita. Adanya
orang-orang yang angkuh/sombong dan takabur, orang-orang yang melampaui batas,
para orangtua yang tidak mensurgakan putra-putrinya, anak-anak yang durhaka kepada
orangtuanya, pemimpin yang sewenang-wenang, pejabat yang korup,
pengusaha/kontraktor yang serakah, pegawai yang tidak disiplin, pedagang yang
curang, tetangga yang selalu menggunjing dan seterusnya. Realitas kehidupan
seperti ini menyebabkan manusia melenceng jauh dari fitrahnya.

Karenanya menjadi sunnatullah,
di saat manusia memutus hubungan dengan Allah, maka ia akan pula memutus
hubungan dengan sesama manusia bahkan akan merusak tatanan alam semesta, dan
pada akhirnya ia termasuk golongan yang merugi. Seperti tampak dalam surat
al-Baqarah ayat 27:

“(yaitu) orang-orang yang
melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa
yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat
kerusakan di muka bumi. Mereka Itulah orang-orang yang rugi.”


Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Untungnya, dalam durasi
tahunan, Allah menjadikan Ramadan sebagai bulan rahmat, maghfirah dan itqu
minannar, dimana dengan shiyamu ramadan dan qiyamu ramadan
yang kita tegakkan selama sebulan penuh, adalah menjadi sarana/media/ instrumen
untuk menemukan kembali jalan menuju fitrah. Pada siangnya kita berpuasa,
dimana pahalanya tidak tergantung seberapa jauh kita lapar dan dahaga,
melainkan tergantung pada apakah kita menjalankan dengan iman dan ihtisab kepada
Allah serta penuh intropeksi atau tidak. Pada malamnya kita qiyamu ramadan
dengan shalatultarawih), agar hati kita senantiasa terikat dan tunduk
kepada Allah pemilik jiwa raga ini. Hari-hari Ramadan pula kita ramaikan dengan
tadarrus al-Qur’an agar kita bisa mengaca diri, apakah tingkah-laku kita
sudah sesuai dengan tuntunan al-Qur’an atau belum. Dan pada akhirnya, kita
sempurnakan seluruh rangkaian ibadah Ramadan dengan zakat fitrah, sebagai
ungkapan simbolik kecintaan dan kepedulian kita terhadap kaum miskin dan papa.


Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Setelah berjuang selama
sebulan, kini kita terlahir kembali sebagai sang pemenang. Karena secara
sunatullah, kemenangan tidak datang di awal, tetapi di belakang atau di akhir,
yaitu di ujung sebuah perjuangan. Jadi Kemengan datang setelah ada perjuangan.
Kemenangan memerlukan proses perjuangan
yang tak jarang berlangsung amat panjang dan melelahkan. Menurut Sayyid
Quthub, untuk menggapai kemenangan diperlukan beberapa tahap, yaitu iman, jihad
(kesungguhan), ujian atau cobaan, kesabaran dan tahan uji, serta
mengorientasikan diri menuju Allah SWT semata (al-tawajjuh). Kemudian
baru datang kemenangan, kita merasakan kenikmatan dan kebahagiaan.


Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Tahapan demi tahapan untuk
meraih kemenangan itu, telah kita kukuhkan selama Ramadan yang baru saja
berlalu, sehingga hari ini kita tampil sebagai pemenang, seperti doa kita ja’alna
Allahu minal ‘Aidin wal Faizin wa ma’bulin Amin (Semoga Allah berkenaan
menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kembali suci dan
memperoleh kemenangan sejati serta diterima amal ibadah kita). Ungkapan ini
kemudian sering kita modifikasi menjadi Minal Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir
Batin.


Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Setelah menjadi pemenang,
karena telah kembali kepada jati diri yang fitri. Selanjutnya aktifitas apa
yang paling utama dilakukan sekembali kita dari shalat idul fitri ini? Setelah berpuasa dengan segenap aktivitas
pendukungnya selama sebulan penuh di bulan Ramadan dengan niat ikhlas hanya
memburu ridla Allah, maka dosa-dosa kitapun diampuni. Namun seperti kita
ketahui, dosa yang diampuni itu, adalah dosa yang berhubungan langsung dengan
Allah. Sementara, mungkin masih ada dosa lain yang berkaitan dengan sesama
kita, antar kita, di mana ampunan Allah sangat bergantung pada pemaafan dari
masing-masing kita.

Maka untuk menyempurnakan
ketidakberdosaan (kefitrian) kita, setelah shalat idul fitri ini,
kita dituntut untuk menjalin
silaturahim, saling kunjung-mengunjungi,
berhalal bihalal, kita menghalalkan dan memaafkan orang lain, orang lain
juga menghalalkan dan memaafkan kita. Dengan demikian pada hari raya ini kali
ini, diharapkan semua macam dosa lebur dan diampuni serta kita kembali
sebagaimana fitrah kita, mulus tanpa dosa, yang ada hanyalah kebaikan, sehingga
kita merasakan kebahagiaan.

Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Agar kita tetap dalam
kefitrian dan tidak mendapat murka Allah, maka kita harus menjadikan aura
Ramadan menghiasi hidup dan kehidupan kita. Kita kibarkan bendera taat
selama-lamanya, meski bulan Ramadan telah berlalu. Allah memperingatkan kita.

Dan janganlah kamu seperti
seorang perempuan tua yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan
kuat, menjadi cerai berai kembali… QS al-Nahl 92

Allahu Akbar 2X walillahi
al-hamd

Kita mungkin sepakat untuk
tidak ingin merusak bangunan yang telah kita tegakkan, kecuali untuk
merenovasinya sehingga lebih sempurna dan bertambah indah. Bangunan ini bisa
bersifat fisik (seperti rumah, istana, jalan atau sehelai kain dan lain
sebaginya) maupun non fisik (seperti akhlak yang terpuji, kebiasaan shalat
malam, tadarrus al-Qur’an, bersedekah dan lain sebaginya).

Amalan selama Ramadan dengan
segenap aktifitas ibadah pendukungnya telah kita tegakkan dengan baik, sehingga
meraih gelar mutaqqin, maka kini
di bulan Syawal ini kita memasuki fase penerapan (tathbiq) dari
hasil didikan Ramadan. Oleh karena itu melalui kutipan ayat di atas, Allah
mengingatkan kita untuk tidak mengurai kembali jalinan kain yang telah kita
tenun selama Ramadan. Paling tidak kita harus dapat mempertahankan jalinan
ketaatan dan pengabdian kepada Allah yang telah kita patrikan selama Ramadan,
bahkan dituntut untuk dapat meningkatkannya pada masa-masa sesudahnya. Bila ini
bisa kita dilakukan berarti bersesuaian dengan penamaan bulan setelah Ramadan
yaitu Syawal yang bermakna peningkatan,
musim semi.

Allahu Akbar 2X walillahi al-hamd

Ini barangkali renungan kita
di sela-sela merayakan idul fitri sehingga hari raya ini tetap menjadi lebih
bermakna. Maka marilah kita berdoa semoga Allah memasukkan kita ke dalam
hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, mentaati perintah-Nya dan menjauhkan
kita dari adzab dan siksa-Nya yang amat pedih.

Ya
Allah, melalui wahyu-Mu, kami mengetahui bahwa Engkau Maha Pemurah. Melalui
samudra kemurahan-Mu yang tak bertepi jangan Engkau jadikan Ramadan ini
terakhir bagi kami, sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi hamba-Mu ini untuk
mengabdi kepada Mu pada Ramadan tahun depan. Jangan Engkau jadikan hari ini
sebagai akhir shalat malam kami, akhir
puasa kami, akhir sedekah kami, akhir tadarus Qur’an kami, akhir shalat jama’ah
kami atau akhir amal ibadah kami. Karena tanpa semua ini hamba-Mu hampa.

Ya Allah, melalui al-Qur’an, hamba-Mu tahu Engkau maha
Kuasa dan Perkasa. Dengan kekuasaan dan keperkasaan-Mu jadikan ibadah Ramadan
ini sebagai syahrut tarbiyah, syahrut tazkiyah kami, sehingga
hamba-Mu bisa tampil sebagai generasi rabbani yang senantiasa bertaqarrub
padaMu.

Ya Allah, melalui firman-Mu, kami menyadari bahwa Maha
Pengampun dan Penerima taubat. Melalui keagungan maafMu, ampunilah segala dosa
kami, ibu bapak kami, saudara-saudara seiman kami, sehingga kami termasuk
orang-orang yang kembali bersifat fitri laksana bayi yang dilahirkan tanpa dosa
dan kepura-puraan. Jadikan kami sebagai hamba yang kembali kepada ahsani
taqwin, meski telah lama terjerembab dalam asfalassafilin.
Jadikanlah hambamu sebagai bagian dari orang yang memperoleh kemenangan, bukan
atas orang lain, tetapi kemenangan atas hawa nafsu kita sendiri. Amin, ya
Allah, Rabb al-‘Alamin!



اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ
وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ
سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.


Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan
mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya
Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.


رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia,
kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.


Cot Yang Aceh Besar


1 Syawal 1432 H


Banda Aceh, 1 Syawal 1436 H/17 Juli 2015