Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Doa Agar Bertutur Kata Yang Baik

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 14 Dzulhijjah 1442

Doa agar Menyejarah
Saudaraku, doa permohonan Nabi Ibrahim as yang termaktub dalam al-Qur'an lainnya adalah memohon agar dirinya dijadikan sebagai buah tutur yang baik di kalangan umat manusia. Allah berfirman yang artinya (Ibrahim berdoa): "dan jadikanlah diriku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, (Qs. Al-Syu'ara 84)

Berdasarkan normativitas yang terjemahannya tertera di atas di antaranya dipahami bahwa Nabi Ibrahim as di samping berusaha menjadi pribadi yang taat pada Rabbnya, juga memohon agar dirinya dijadikan sebagai "buah bibir" atau pujian yang baik dan kesan yang mempesona bagi kehidupan umat manusia di masa-masa sepeninggal dirinya. 

Dan benar kiranya, pernohonan Nabi Ibrahin terealisadi.  Betapa tidak! Namanya, sejarah hidupnya, perjuangan dakwahnya, ketaatannya pada Rabb, ujian keimanannya, kesabarannya bahkan juga keluarganya menjadi prototipe ideal; pribadi dan keluarganya menjadi pilihan Tuhan yang dapat dijadikan suri teladan secara proporsional sepanjang sejarah manusia hingga akhir masa.

Ketika berkeinginan menjadi penyeru kepada agama Allah (da'i) yang sabar, maka kita bisa mencermati shirah dan sejarah Nabi Ibrahim sehingga akan mendapatkan banyak ibrah. Betapa Nabi Ibrahim sangat sabar atas ayah orangtuanya sendiri yang musyrik, dan atas kebengisan penguasa Raja Namrud dan kejahiliyahan rakyatnya yang paganis penyembah berhala yang sudah berakar kuat dalam sanubari mereka.  Nabi Ibrahim as tetap sabar dan istikamah dalam berdakwah.

Ketika sudah berkeluarga lama tak dikarunai sibuah hati, kita bisa berusaha dan berdoa seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim as. Ternyata usia keduanya (suami istri) yang tidak muda lagi, bukan halangan untuk berharap menjemput karunia anak pada Rabbuna. Dan bukan hal yang mustahil bagi Allah untuk mengabulkan usaha dan doa hambaNya. Tinggal bagaimana kita berusaha menjemput karuniaNya.

Ketika bercita-cita menjadi suami yang penyayang pada istri dan keluarganya, lihatlah Nabi Ibrahim as atas istri dan anaknya. Namun kecintaan pada istri (baca pasangan hidupnya) dan anaknya semata-mata karena cintanya pada Allah ta'ala. Sehingga ketika Allah memintanya, maka dengan sepenuh hati "diserahkan" kepadaNya.

Ketika berazam menjadi pribadi yang istikamah dalam ketaatan, semua orang dapat belajar dari Nabi Ibrahim as. Betapa Nabi Ibrahim berhasil memerankan sebagai pribadi yang istikamah dalam ketaatan kepada Allah. Perintah Tuhan dan penunaian pengurbanan "agung" atas putranya, Ismail menjadi rujukan akan ketaatan Ibrahim. Dan kisah ini menjadi rujukan semua umat penganut agama monotheisme. 

Dan masih banyak lagi pragmen kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya yang menjadi teladan sejarah kemanusiaan, sehingga tetap akan menjadi "buah bibir" yang baik hingga akhir zaman. Padahal masa hidupnya sudah berlalu ribuan tahun yang silam; jasad dan ruhnya sudah menyatu dengan asal mulanya.

Inilah pribadi pilihan, orang-orang yang karena ketaatan pada Rabbnya, sehingga nama, sejarah dan keluarganya diabadikan dalam al-Qur'an. Dan di antara pertanyaan muhasabahnya adalah bagaimana dengan keberadaan diri kita: adakah yang mengingat nama kita? Adakah yang menyebut atau menulis tentang diri atau meneladani diri kita, Padahal diri kita masih hidup. Nah kesan apa yang akan kita tinggalkan untuk anak cucu kita? Sekaranglah saat meresponinya. Allahu a'lam