Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Doa Nabi Nuh

Doa Nabi Nuh


Sri Suyanta Harsa 

Muhasabah 3 Dzulhijjah 1442

Saudaraku, setelah mengambil ibrah dari doa permohonan yang dipanjatkan oleh Nabi Adam dan Hawa kepada Allah setelah melakukan kesalahan, maka tema muhasabah hari ini kita akan belajar dari doa dalam kisah Nabi Nuh dan keluarganya. 

 Allah berfirman yang artinya. Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya (bahtera) dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya." Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. 

Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir." 

Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". 

Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. 

 Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," Dan air pun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang lalim." 

 Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya." 

 Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan."
 

Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat) nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi." 

 Difirmankan: "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami." 

 Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, niscaya aku termasuk orang yang merugi” (Qs. Hud 41-50).

 Merujuk pada normativitas yang terjemahannya tertera di atas, di antaranya dapat dipahami bahwa pragmen kisah Nabi Nuh as, keluarga dan umatnya sangat menakjubkan; sarat dengan ibrah berharga. Di antaranya tentang praktik pendidikan keluarga, hidayah dan tuntunan bersikap sabar juga bijak. 

Pertama, pendidikan keluarga dalam Islam dipandang sebagai pendidikan pertama dan utama, sehingga mendasari bangunan pendidikan setelahnya. Kedua orangtua dan seluruh anggota keluarga harus bersinergi mewariskan dan mewarisi din al-Islam yang didasari oleh akidah yang kokoh, mengistikamahi praktik ibadah yang disyariatkan dan mengukuhkan akhlaq al-karimah dalam kehidupan. Dalam konteks ini, Nabi Nuh as sebagai seorang imam keluarga telah secara maksimal mengajak istrinya dan anak-anak untuk beriman. 

 Kedua, hidayah. Meskipun telah mengerahkan segala daya dan upaya untuk berdakwah mengajak keluarga dan umatnya agar beriman pada Allah, namun perihal hidayah tetaplah menjadi misteri karena merupakan hak prerogatif Allah semata. Manusia hanya bisa berusaha menjemput hidayahNya dengan bersikap dan memantaskan diri akan kelayakannya, tapi Allah yang maha mengetahui pemutus segalanya.

Betapa tidak keluarga batih Nabi Nuh as, yakni isterinya sendiri yaitu Emzara atau Amzurah binti Barakil dan salah seorang anaknya yaitu Kan'an justru ikut menolak dahwahnya untuk beriman kepada Allah. Ini adalah ujian besar yang dihadapi nabi. 

Meskipun ada ikatan keluarga pada seorang nabi sekalipun, tetapi orang-orang yang tetap bersikukuh tidak mau menerima dakwah ilallah, padahal sudah diajak dan dididik secara maksimal sedemikian rupa, maka sejatinya ia "bukan termasuk bagian keluarga yang diselamatkan" dan tentu Nabi Nuh sudah terlepas dari apa yang mereka putuskan untuk dirinya. 

 Inilah pragmen sejarah semoga menjadi tazkirah atau pengingat bagi kita semua agar berhati-hati. Hati-hati saat memilih calon isteri atau suami, hati-hati seraya memaksimalkan doa permohonan dan ikhtiar dalam mendidik anak dan isteri. 

 Ketiga, tuntunan tetap sabar dan bijak. Secara manusiawi hati siapa yang tidak emosional, sedih, menyesal, merasa bersalah atau bahkan "marah" ketika orang-orang yang dicintainya malah menolak ajakan untuk beriman kepada Allah, hatta seorang nabi sekalipun. 

 Coba bayangkan, dalam sebuah keluarga terdapat anggotanya yang "tampil berbeda", nyleneh atau tidak mengikuti haluan kebenaran dan jalan takwa sebagaimana ajakan imam keluarga! Seperti kejadian yang menimpa pada keluarga Nabi Nuh as, dimana istri dan salah seorang anaknya justru menolak ajakan berislam.

Seperti dinukilkan dalam ayat, Nabi Nuh sampai-sampai mengadu memohon kepada Allah, "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya."

Kemudian, Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan."

Maha benar Allah dengan segala firmanNya.