Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Doa saat Hari Tasyriq

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 12 Dzulhijjah 1442

Doa saat Hari Tasyriq 
Saudaraku, sebagaimana diyakini bahwa din al-Islam adalah agama yang rahmatan lil'alamin (penebar rahmat ke seluruh alam; ke sluruh kehidupan), melintas batas keberlakuan, kemaslahatan dan peran pemeluknya. Idealitas rahmatan lil'alamin kemudian senantiasa menjiwai umatnya hingga akhir zaman. Hal ini mewujud dalam praktik-baik dalam kehidupan sehari-hari yang menebar kedamaian dan keberkahan bagi kehidupan. 

Dalam konteks syukuran di Hari Raya Idul Adha, dan tiga hari berikutnya yakni 11, 12 dan 13 Dzulhijjah merupakan hari tasyriq (hari menjemur daging) sebagai hari bergembira, saat bersuka cita, hari makan dan minum, sehingga padanya diharamkan berpuasa. Hal ini terjadi karena orang-orang Islam mensyukuri karunia Allah, di antaranya dengan shalat dan berkurban. 

Saking banyaknya hewan kurban yang disembelih dan daging kurban yang didistribusikan ke seluruh keluarga seantero negeri, maka wajar bila disebut hari menjemur daging dan hari makan minum. Di samping itu dalam rangka bersyukur dan mendekatkan diri pada Allah,  umat Islam juga memperbanyak dzikir. Hal ini sekaligus menyahuti firman Allah yang artinya Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang (hari tasyriq)” (QS. Al-Baqarah: 203).

Nabi Muhammad saw menasihati  bahwa hari tasyriq adalah hari makan, minum dan hari untuk mengingat Allah” (HR. Muslim). Dan dalam kesempatan yang berbeda, Rasulullah saw juga bersabda,

ﺇِﻥَّ ﺃَﻋْﻈَﻢَ ﺍﻷَﻳَّﺎﻡِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﺒَﺎﺭَﻙَ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟﻨَّﺤْﺮِ ﺛُﻢَّ ﻳَﻮْﻡُ ﺍﻟْﻘَﺮِّ

“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah tabaraka wa ta’ala adalah hari Idul Adha kemudian yaum al-qarr (hari tasyriq, 11, 12, 13 Dzulhijjah)” (HR. Abu Daud No. 1765)

Tentu, di atas segalanya, di hari Idul Adha dan hari tasyriq (juga hari-hari lainnya) orang-orang beriman juga berdoa, memohon kebaikan pada Allah ta'ala. Dan doa yang ma'ruf dibiasakan dalam rangkaian ibadah haji adalah memperbanyak doa Rabbana atina fi al-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah wa qina 'adzab al-nar. Terutama di Indonesia, doa ini dikenal dengan doa sapu jagad. Permohonan hamba ke atas Rabbnya agar memperoleh dan atau dianugrahi keselamatan, kemakmuran, kesejahteraan dan kebahagiaan, baik saat hidup di dunia maupun akhirat serta terhindar dari panasnya api neraka.

Allah berfirman yang artinya, Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Rabbana aatina fi al-dunya hasanah wa fi al- akhirati hasanah wa qina ‘adzab al-naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah 200-201)

Berdasarkan normativitas yang terjemahannya tertera di atas di antaranya dipahami bahwa Islam menghendaki umatnya meraih bahagia di dunia dan akhirat. Ini artinya dalam kesadaran orang-orang beriman bahwa dunia dan akhirat itu merupakan satu kesatuan setali mata uang. Oleh karena itu kebahagiaan hidup harus diusahakan, diraih dan dimohonkan terjadi dan efektif sejak sekarang selagi di dunia ini. Orang bahagia adalah orang yang hidup dan berperilaku sesuai citra dan cita Penciptanya. Maka kebahagiaan yang diraih sekarang di dunia ini akan berlanjut dan disempurnakan Allah saat di akhirat nanti.  Aamiin