Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengenang Jasa Muhammadiyah Untuk Indonesia dan Provinsi Aceh

Mengenang Jasa Muhammadiyah Untuk Indonesia dan Provinsi Aceh


Seperti yang kita ketahui Indonesia diperjuangkan dan dibangun oleh seluruh kekuatan nasional sejak zaman perjuangan kemerdekaan sampai setelah merdeka tahun 1945. 

Muhammadiyah merupakan bagian tak terpisahkan dari kekuatan nasional yang sejak berdirinya pada 1912, terlibat aktif dalam perjuangan politik kebangsaan serta membangun bangsa melalui gerakan dakwah berorientasi pembaruan. Peran kebangsaan

Muhammadiyah sebagai kekuatan nasional telah berjuang dalam pergerakan kemerdekaan dan melalui para tokohnya terlibat aktif mendirikan Negara Republik Indonesia. 

Setelah Indonesia merdeka pengabdian Muhammadiyah terhadap bangsa dan negara tetap berlanjut. Inilah bukti, Muhammadiyah ikut ‘berkeringat’ memajukan kehidupan bangsa. Para tokoh Muhammadiyah sangat besar perannya. Terutama Kiai Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah Dahlan bergerak mencerdaskan dan memajukan bangsa hingga diangkat sebagai pahlawan nasional.

Termasuk Ki Bagus Hadikusumo didukung Kahar Muzakkir dan Kasman Singodimedjo menjadi penentu konsensus nasional penetapan UUD 1945 tanggal 18 Agustus 1945, sebagai konstitusi dasar sekaligus penetapan Pancasila sebagai dasar negara.

Kontribusi Muhammadiyah terbesar melalui jendral Soedirman adalah perang gerilya yang kemudian melahirkan serta menjadi Bapak Tentara Nasional Indonesia, yang tiada duanya. Gerakan cinta Tanah Air ini bermodalkan spirit Hizbul Wathan atau Kepanduan Tanah Air yang dirintis tahun 1918, waktu Soedirman menjadi pandu utamanya.

Peran tokoh Muhammadiyah seperti Ir Djuanda juga sangat penting dalam menyatukan seluruh kepulauan Indonesia melalui Deklarasi Djuanda 1957, yang menjadi pangkal tolak perjuangan Indonesia di PBB untuk menyatukan lautan dan daratan dalam satu kepulauan Indonesia.

Selain itu, keberadaan Kementerian Agama juga merupakan sumber darigagasan tokoh Muhammadiyah dari Jawa Tengah, KH Abu Dardiri. Menteri Agama pertama ialah HM Rasjidi, dikenal sebagai ilmuwan atau ulama lulusan Universitas Sorbonne, Prancis, yang berasal dari Kotagede, Yogyakarta. 

Sukarno, Tokoh utama kemerdekaan dan proklamator serta Presiden pertama Indonesia itu lama bergaul dan “ngintil” (berguru secara informal) dengan Kiai Dahlan sebagaimana beliau akui sendiri dalam banyak buku sejarah. Sukarno juga Muhammadiyah, bahkan pengurus Majelis Pendidikan saat di Bengkulu. 

Sukarno juga beristrikan kader Aisyiyah, Fatmawati yang juga putri Konsul Muhammadiyah Sumatra, Hasan Din. Pemahaman Islam progresif menjadi daya tarik Sukarno menjadi anggota dan pengurus Muhammadiyah. 

Presiden Soeharto juga anak didik sekolah Muhammadiyah. dengan segala kelebihan dan kekurangannya, berjasa bagi perjalanan sejarah dan pembangunan bangsa. Muhammadiyah terus berkontribusi bagi pencerdasan dan pemajuan bangsa lewat pembaruan, pendidikan, kesehatan, sosial, dan gerakan dakwah lainnya.

Dalam lintasan perjalanan Indonesia, puluhan hingga ratusan ribu SDM terdidik dan berkarakter lahir dari gerakan ini, tanpa mengklaim dirinya gerakan santri. Dari rahim Muhammadiyah pula hadir Amien Rais sebagai tokoh reformasi, Syafii Maarif tokoh pluralisme dan kemanusiaan. Ada juga sosok Din Syamsuddin, tokoh dialog lintas agama di tingkat nasional sampai internasional.

Sampai kapan pun, Muhammadiyah bersama Indonesia melalui usaha nyata bukan semata klaim retorika ataupun pencitraan. Merasa paling selamat dan paling ahlussunnah waljama`ah.  Karena itu, tidak perlu ada klaim dirinya paling Indonesia, paling cinta NKRI, paling Merah-Putih, paling selamat, seraya memandang pihak lain seolah setengah Indonesia atau setangah selamat.

Begitupula dengan aceh, awal mula Muhammadiyah hadir di Aceh. Secara resmi, Muhammadiyah didirikan pada 18 November 1912 di Yogyakarta. Sepuluh tahun kemudian atau tepatnya 1923, perkembangan Muhammadiyah begitu pesat hingga menyentuh area paling Barat di Indonesia.

Aceh telah mengenang jasa Djayasoekarta seorang Sunda yang pertama-tama memperkenalkan Muhammadiyah di kota Banda Aceh, Sigli dan Lhokseumawe. Sedangkan pimpinan Muhammadiyah pertama sekali dibentuk di Banda Aceh, tahun 1927, dengan konsul, Ketua pertamanya Teuku Hasan Gelumpang Payong. 

Alhamdulillah hingga kini kita telah menikmati hasil perjuangan tokoh pendahulu muhammadiyah melalui lembaga-lembaga pendidikan dari madrasah, PGA sampai universitas ditambah lagi dengan sejumlah lembaga amal dan panti asuhan.

Harus kita ketahui bahwa dalam faktanya, Muhammadiyah memang telah lama melebarkan sayapnya di Aceh yang bahkan mendahului masuknya organisasi NU dan Perti. Artinya, dalam konteks organisasi, Muhammadiyah adalah salah satu organisasi Islam tertua yang telah masuk ke Aceh di masa kolonial, jauh sebelum NU dan Perti berkembang.

Namun sangat disayangkan, ada saja sebagian pihak yang memosisikan Muhammadiyah sebagai organisasi kemarin sore. Saya menduga kondisi ini terjadi karena kurangnya membaca sebagian kita atau mungkin juga ada pihak-pihak yang mencoba menggiring kita untuk tetap larut dalam konflik yang tak berkesudahan demi kepentingan politik.

Pelarangan pembangunan Masjid Muhammadiyah di Sangso, Samalanga, adalah salah satu contoh tentang bagaimana program literasi itu tidak berjalan dengan baik sehingga kebencian-kebencian buta terhadap Muhammadiyah terus bermunculan.

Kita tentu patut kecewa dengan kondisi ini. Ketika konflik bersenjata selesai, kita justru mencoba menciptakan konflik baru dengan topeng agama.

Penolakan terhadap pembangunan Masjid Muhammadiyah di Sangso adalah contoh kegagapan kita dalam memaknai perbedaan. Padahal Masjid Muhammadiyah juga berdiri megah di tempat-tempat lain di Aceh tanpa ada protes yang berarti. 

Lantas apa yang ditakuti Samalanga? Apakah hanya karena wilayah itu didominasi oleh pihak lain kemudian bisa menjadi dalil untuk menolak keberadaan Masjid Muhammadiyah? Bukankah kader-kader Muhammadiyah juga banyak lahir disamalanga? 

Kita berharap pemerintah yang seharusnya melindungi warga muhammadiyah, dengan bersikap adil. Kebebasan dalam pemahaman agama, kebebasan membangun masjid sesuai dengan undang-undang yang berlaku harus di utamakan karena telah berjasa buat negara ini. 

Justru kita tak mau pemerintah menyahuti keinginan satu pihak sembari menafikan kepentingan pihak lain dengan argumen-argumen klise yang sama sekali tidak relevan atau kearifan lokal yang tidak beralasan. 

Warga Muhammadiyah bireuen juga berharap pembakaran pondasi masjid muhammadiyah samalanga yang sudah larut bertahun-tahun, direbohkan palang nama muhammadiyah pihak yang intoleran dan pembakaran balai penganjian yang sudah berbulan-bulan segera ditangkap dan diadili sesuai undang-undang berlaku di negara kita. Penjahat intoleran haram dilindungi.

Semoga momentum Musyda Muhammadiyah Bireuen ke-5, semua elemen Muhammadiyah berjuang menguatkan barisan, menguatkan gerakan dakwah untuk bireuen berkemajuan.

Nashrun minallahi wa fathun qorib Wa bassyiril mu'minin 

Penulis : Rizki Dasilva (Kepala SDIT Muhammadiyah Bireuen)